Top, top, Dybala interview in La Repubblica. That was most of it.
— Tarek Khatib (@ADP1113) December 24, 2015
Benarkah kamu ditendang benaran pertama kali oleh Gattuso?
Dia melatih saya selama beberapa bulan, tapi iya, dia mengajarkan saya cara menerima tekelan.
Dia menempatkan saya sebagai playmaker dan dia di lapangan tengah, bila saya berhasil melewatinya dia akan menjatuhkan saya dan akhirnya saya belajar cara menangani kontak.
Mengalaminya di dalam latihan membantu kamu menangani situasi tersebut di pertandingan.
Lihat Cuadrado contohnya, dia ringan dan kurus tapi dia mampu menerima tekelan tanpa terjatuh.
Bagaimana dengan Messi?
Mengenal dia adalah satu-satunya mimpi yang belum terwujud...ketika saya dipanggil ke timnas Argentina dia tidak berada di sana.
Saya tidak pernah berbicara dengannya, saya tidak pernah bermain melawannya tapi saya mengikuti tiap gerakan yang dia buat, dan saya juga dapat belajar banyak darinya dari sisi kemanusiaan.
Bagi kami para pemuda Argentina, dia adalah sebuah titik acuan.
Namun beberapa orang Argentina yang lebih tua tidak menyukai dia, mengapa?
Karena kami adalah orang-orang khas. Tidak seperti Maradona, dia belum pernah memenangkan Piala Dunia dan orang-orang menyerangnya. Saya tidak akan membuat perbandingan. Kami punya Diego, kami punya Lionel dan kami mengeluh? Mengkritik Messi: kami sudah gila.
Besok setelah Messi ada Dybala...
Besok ada Messi, mari nikmati permainan dia, Aguero & Di Maria. Berlatih dengan mereka adalah suatu kenikmatan.
Pernah berpikir tentang hari kamu bermain dengan Messi?
Selalu, saya pikir dia akan dikepung 5 pemain di sekelilingnya dan saya akan tetap mengoper bola padanya.
Dan akankah kamu menganggap dia sebagai rekan dan bukan idola?
Tidak akan.
Kamu tidak akan lebih suka Juve bertemu Barca daripada Bayern supaya kamu bisa mengenal dia (Messi) 'kan?
Saya bukan masokis separah itu.
Kamu punya darah Italia dan Polandia, masih sangat merasa orang Argentina?
Saya merasa 100% orang Argentina, walau saya terlihat asing dengan mata yang pucat ini, saat saya harus memilih saya tidak punya keraguan.
Saya tidak melakukan kalkulasi apapun, saya tahu bahwa bersama Italia atau Polandia saya akan mendapat lebih sedikit persaingan tapi saya ingin bermain untuk Argentina dan saya tidak pernah bertanya atau berpikir tentang berganti kubu.
Saya tidak akan merasa bahagia berada di timnas yang bukan terasa kepunyaan saya, mendengar bukan lagu kebangsaan saya, memakai bukan warna saya.
Apakah kamu menganggap para oriundi pengkhianat?
Teman saya Vazquez memiliki ibu orang Italia, saya cuma paspor dari nenek buyut saya yang mana saya tidak tahu tentangnya. Vazquez merasa orang Italia, tapi saya tidak.
Kamu lebih Polandia daripada Italia 'kan?
Benar, kelihatannya aneh tapi saya tidak pernah berpikir tentang asal usul saya hingga beberapa bulan lalu. Hingga saya bertemu saudari dari kakek saya. Seorang jurnalis Polandia membuat film dokumentasi tentang saya dan akhirnya kita mengetahuinya.
Dybala aslinya berasal dari Krakow. Saya berbicara pada bibi saya lewat Skype tapi belum pernah menginjakkan kaki di Polandia.
Ayah kamu meninggal saat kamu berumur 15 tahun...
Tak ada sesi latihan di mana dia tidak menemani saya. Penyakitnya sudah lama dan saya tahu berbulan sebelumnya kematian akan datang. Saya sangat meridukannya namun ketiadaannya memberikan saya kekuatan dan kedewasaan.
Saya sangat dekat dengan keluarga saya, ibu saya juga tinggal di sini dengan saya di Turin, tapi saya tahu jika saya ingin membuat karir untuk diri saya sendiri, saya tidak dapat tinggal di rumah, jadi pada umur 15 saya pergi untuk tinggal di sebuah hostel klub (Instituto)
Kamu pindah ke Eropa saat berumur 18 tahun...
Di Argentina kamu menjadi pria dewasa dengan cepat. Saya pikir saya harus bermain 2-3 musim di River atau Boca sebelum siap namun Zamparini datang dengan €12 juta dan saya harus pergi.
Saya gembira, uang itu akan menolong klub kecil saya tapi presiden mengambilnya dan menghilang, Instituto kembali lagi tanpa uang.
Mantan teman-teman setim saya tidak dibayar, mereka tetap lanjut dengan dukungan minim dari fans. Hal itu membuat saya marah bahwa pengorbanan saya sia-sia.
Apakah Palermo adalah langkah yang tepat?
Ya, karena mereka menyambut saya seperti saya sudah berada 10 tahun di sana, tapi pada awalnya cukup sulit. Saya tidak mengerti bahasa atau apa yang sedang terjadi, saya sedikit tersesat.
Sebelum Palermo saya tidak pernah mengalami pergantian pelatih dan bergelut dengan itu tapi teman-teman setim saya menjelaskan bersama Zamparini hal itu biasa.
Kamu pernah tidak pada suatu momen berpikir bahwa Juventus terlalu dini untuk kamu?
Tidak, kalau begitu saya masih tinggal di Palermo. Tapi saya juga tidak berharap untuk mencetak 5 gol di 6 laga pertama di Juve. Juga saat Allegri tidak memainkan saya bukan berarti dia ingin kalah...
Tidak pernah marah karena dicadangkan?
Di Palermo tapi tidak di sini. Allegri memenangkan segalanya tahun lalu, saya tidak mampu marah padanya.
Apa yang kamu punya sekarang yang tidak kamu punya dulu?
Saya mendapat hasrat untuk menang, yang mana suatu hal yang aneh dan sulit.
Setelah final di Berlin, saya kembali ke Italia dalam pesawat yang sama dengan tim (Juve) dan satu episode menghentak saya. Marchisio datang kepada saya dan bilang: "Bersiaplah, tahun depan kita harus memenangkan segalanya." - itu luar biasa. Mereka baru saja bermain di final Liga Champions dan bukannya berpikir tentang liburan, mereka memikirkan musim depan. Saat itulah saya menyadari perbedaan antara Palermo dan Juve.
Secara teknis juga berbeda jauh (Palermo-Juve)?
Iachini memainkan saya sebagai penyerang, di sini Allegri ingin saya mundur sedikit ke belakang. Saya sering mendapat bola di kaki saya. Ini pekerjaan yang dilakukan Vazquez di Palermo. Di sini saya berbagi peran itu bersama Morata.
Perannya Messi?
Messi bermain di manapun dia mau. Saya memiliki kebebasan untuk meyerang namun saya juga harus bertahan, Messi boleh tidak melakukannya.
Apakah kamu berharap untuk beradaptasi dengan sangat cepat?
Saya memiliki sebuah target: 15 gol musim ini namun karena saya sudah mencetak 10 gol, saya harus menyesuaikan targetnya lagi. Saya lebih cepat dari jadwal dalam segala hal.
Apakah kamu punya seseorang yang membantu kamu? Seorang motivator?
Saya punya keluarga saya, mereka katakan pada saya hal-hal yang orang lain tidak berani katakan.
Saya sangat auto-kritik dan saya tahu apa yang salah tapi saya punya saudara-saudara yang akan menampar saya bila perlu: Gustavo (35 tahun) dan Mariano (32 tahun), mereka pandai bermain bola, namun mereka tidak memiliki keberanian dan hasrat yang saya punya yaitu memberikan segalanya, untuk mengikuti sebuah mimpi.
Artikel ini merupakan terjemahan dari cuitannya Tarek Khatib dan juga artikel di football-italia.net
No comments:
Post a Comment