Sudah meraih 7 kemenangan liga beruntun, Juventus memasuki jeda musim dingin dalam posisi kuat, sebagaimana hasil tersebut telah mengantarkan mereka pada posisi ke-4 klasemen Serie A. Naik 10 tingkat hanya dalam 2 bulan, I bianconeri dapat bercermin pada peningkatan dramatis selama periode yang sama.
Memang, pada paruh pertama musim 2015/16 terlihat bahwa klub berbasis di Turin ini mengalami beberapa masa sulit, dengan posisi pelatih Massimiliano Allegri seolah dalam bahaya setelah hanya meraih 3 kemenangan dalam 10 laga pembuka Serie A.
Namun dia tidak pernah terlihat khawatir, memancarkan kepercayaan diri selama sebuah wawancara dengan The Independent, di mana dia mengakui bahwa perombakan musim panas Juve memang penting bila sang Nyonya Tua ingin tetap sukses.
"Demi membawa tim maju, kami tahu bahwa inilah saatnya berubah," kata Allegri bercermin pada jendela transfer di mana tak kurang dari 9 pemain baru ditambahkan pada skuad sementara pemain seperti Andrea Pirlo, Arturo Vidal dan Carlos Tévez pergi.
Juve dimaklumi perlu waktu untuk menyatu kembali, namun sang pelatih dikritik karena caranya menangani beberapa pemain yang baru direkrut pada musim panas tersebut, dengan mungkin penanganan Paulo Dybala adalah hal yang paling menonjol.
"Kasus Dybala menyebabkan masalah bagi Allegri," tulis harian Tuttosport di halaman depan pada Oktober lalu, sementara presiden dari mantan klub si penyerang malah lebih vokal pada masalah ini.
"Allegri sedang berada pada jalur untuk menghancurkan Dybala," kata Maurizio Zamparini dalam sebuah wawancara dengan Radio Sportiva, ironisnya beberapa minggu kemudian pemain Argentina ini malah akhirnya menjadi pemain paling berpengaruh bagi Juventus.
Sudah mencetak 10 gol dan 3 umpan (koreksi: 4 assist -semua di Serie A-; 10 gol: Serie A 8, Super Coppa 1, Coppa 1) di semua kompetisi, hanya ada sedikit ruang untuk kritikan, dan Stephan El Shaarawy (yang menerobos tim utama Milan selama masa kepelatihan Allegri di sana) percaya bahwa sang pelatih menangani Dybala dengan sempurna.
"Allegri melakukan pekerjaan bagus padaku dan saya pikir dia sedang melakukannya pada Dybala. Pada pemain muda hal ini membutuhkan kesabaran, lalu jika mereka memang bagus mereka punya 16 tahun lagi untuk bermain," katanya pada La Gazzetta dello Sport.
Hal yang sama dapat dikatakan mengenai Alex Sandro, di mana pemain Brasil ini awalnya duduk di bangku cadangan menyaksikan Patrice Evra terus menahan posisinya di sayap kiri. Namun, pelan-pelan dia juga akan menerobos jalannya ke dalam starting XI dan mengirimkan umpan-umpan krusial dalam laga-laga krusial melawan Torino, Milan dan Manchester City.
Daniele Rugani juga telah bermain dengan menonjol dalam 2 laga terakhir, bermain sejak awal di babak 16 besar Coppa Italia sebelum akhirnya masuk sebagai pemain pengganti dalam kemenangan atas Carpi. Dengan Giorgio Chiellini dan Andrea Barzagli keduanya telah menginjak kepala tiga, si pemuda dengan sempurna diposisikan untuk maju dan menggantikan mereka.
Allegri menyebut Rugani sebagai "masa depan Juventus" pada suatu konferensi pers, dan bersama rekan-rekan setimnya yang tersebut di atas, kelihatannya pelatih telah menentukan waktu dengan sempurna untuk memainkannya, dengan si pemain sendiri sadar sepenuhnya akan situasi ini.
"Saya baru saja mulai di Juventus dan saya tahu ini tidak akan mudah," kata Rugani dalam suatu wawancara dengan La Gazzetta dello Sport, dan hal ini juga sama sulitnya buat bos barunya selama beberapa bulan terakhir.
Untuk bagiannya, Allegri dengan jelas mengungkapkan alasan kebangkitan mereka pada konferensi pers belakangan ini bahwa timnya bermain lebih percaya diri sekarang dan mereka melakukan pendekatan dan mengatur permainan lebih baik juga.
"Tidak ada rahasia, hanya kerja keras dan menjaga kesadaran akan perspektif," lanjutnya, Massimiliano Allegri mungkin menyoroti kualitas yang dibawanya ke dalam tim yang telah membantu membawa dia melalui masa sulit tersebut.
Artikel ini merupakan terjemahan artikel berbahasa Inggris yang ditulis oleh Adam Digby untuk bleacherreport.com
No comments:
Post a Comment