Pages

Friday, December 25, 2015

Kepingan Serangan Allegri Mulai Cocok


Luca Cetta percaya, Paulo Dybala dan Mario Mandžukić adalah duet serangan yang akan membawa Juve melewati 2016.

Juventus tahu mereka harus berbelanja. "Kami bicara kepada Carlos [Tévez] di Januari, dan Carlos mengungkapkan hasratnya, bila kondisinya tepat, dia akan kembali ke Argentina," kata Presiden Agnelli beberapa hari setelah kekalahan atas Barcelona di final Liga Champions.

Dia akan sulit tergantikan, namun Juve melakukan bisnis serangan terbaik mereka lebih awal di musim panas. Paulo Dybala yang sudah difinalisasi transfernya dari Palermo menjadi tamu klub di Berlin. Mario Mandžukić juga akan datang sebelum akhir Juni.

Namun pada September kelihatannya suatu daya serang yang jauh berbeda dibandingkan 3 bulan sebelumnya. Juventus pasrah kehilangan Carlos Tévez dan Alessandro Matri yang memang cuma pemain pinjaman. Pada saat  jendela transfer ditutup hanya Álvaro Morata yang tersisa dari musim 2014/15. Kedatangan Simone Zaza berarti sedikit tempat buat Fernando Llorente, yang lalu pergi ke Sevilla. Dan meskipun dimainkan sejak awal pada 2 laga awal Serie A, Kingsley Coman akhirnya bergabung dengan Bayern München. Omongan Massimiliano Allegri selanjutnya menyiratkan dia tidak senang dengan kepindahan Coman. Tambahkan bumbu-bumbu ini dan tidak heran Juve hanya mencetak 6 gol di 6 laga awal musim.

Juventus sudah menanggulangi start pelan mereka untuk menjadi penantang serius Scudetto dengan 7 kemenangan beruntun. Dan hanya saat ini kepingan puzzle serangan Allegri masuk pada tempatnya.

Berpusat di Dybala, penyerang 22 tahun ini memimpin daftar pencetak gol Juve dengan 10 gol di semua kompetisi. Dibeli dengan harga €40 juta, pemain Argentina ini telah menjadi poros serangan Juve. Membutuhkan beberapa minggu untuk menyetel dengan lingkungan barunya, bahkan Allegri pun tidak ingin membebani Sang Permata (La Joya =baca: la hoya) dengan terlalu banyak tanggung jawab terlalu dini. Namun Dybala merespon dengan mencetak gol-gol spektakuler dan penting.

Dan Dybala mengambil apa yang bisa dia bisa dari Carlitos. Berbicara soal perannya pada awal musim dia berkata: "Hampir sama seperti trequartista (playmaker). Saya bermain di antara lini. Sebenarnya saya sudah mempelajari Tévez selama setahun. Saya menonton semua pertandingannya musim lalu dan saat kami berlatih bersama untuk timnas saya mencoba mencontoh dia sebanyak mungkin."

Dybala tidak mencetak gol pada kemenangan pamungkas tahun 2015 di Carpi, tapi Mandžukić yang melakukannya. Dua kali. Membuktikan insting predatornya, si penyerang Kroasia mencetak 2 gol hanya dari 2 sentuhan di dalam kotak penalti tuan rumah pada babak pertama. Hal tersebut membuatnya sudah mencetak 9 gol musim ini, termasuk 6 gol di 7 laga terakhir. Gol-gol penting juga. Tiap gol dari setengah lusin gol tersebut berdampak pada hasil akhir, dari gol penentu kemenangan atas Manchester City hingga membuyarkan keunggulan sementara Empoli dan Carpi.

Bila Dybala memiliki kemampuan teknis hakiki dan pergerakan à la Tévez, maka Mandžukić menyediakan tenaga kasar (raw power). Mantan pelatihnya di Wolfsburg Felix Magath pernah berkata bahwa dia cukup bugar untuk bermain 2 laga bertempo tinggi secara beruntun tanpa berhenti walau hanya untuk 1 menit. Hal itu tercermin dari kinerja bertahannya, di mana Mandžukić sering mengganggu pertahanan lawan.

Dybala dan Mandžukić telah mencetak setengah dari 28 gol  Juve  di Serie A. Mereka adalah duet pilihan Allegri, pemain inti di 5 laga liga terakhir. Mereka terbukti menentukan juga, entah mencetak gol atau assist pada tiap laga. Kombinasi ini mulai berkembang pesat.

Bagaimana dengan Morata? Gol pada 2 laga awal Liga Champions menyamakannya dengan rekor klub yang dipegang Alessandro Del Piero yaitu mencetak gol di 5 laga beruntun di Eropa, namun sejak saat itu dia kehilangan posisinya. Morata hanya bermain sejak awal di 6 laga liga hingga natal -ditambah 5 di Eropa- dan tanpa gol sejak awal Oktober. Sudah 15 penampilan. Morata kurang kepercayaan diri dan akan berharap untuk kembali pada tahun baru seperti yang dilakukannya musim lalu.

Lalu ada Zaza. Dia sudah mengakui keinginan untuk lebih sering dimainkan, tampil hanya untuk 284 menit di Serie A, tapi berniat bersaing untuk memperebutkan posisinya.
"Saya lebih suka bermain lebih banyak dan mencetak lebih banyak gol, tentunya, tapi saya tidak pernah mengeluh dan saya tidak akan bermain sejak awal sekarang," kata Zaza setelah mencetak gol di Palermo. "Saya menikmati momen ini dan melihat ke depan." Dia memaksimalkan kesempatan berikutya dengan mencetak 2 gol pada Derby della Mole melawan Torino di Coppa Italia. Dengan 5 gol di semua kompetisi, dia menunjukkan pada Allegri dia pilihan yang siap sedia dan mampu diandalkan.

Namun ini bukan soal mencari masa lalu pasangan saat ini. Akan ada kesempatan buat Morata dan Zaza sebagaimana Juve masih berlaga di 3 kompetisi. Tapi setelah pergolakan pada Agustus lalu, lini serang sekarang sedang berbuah, kepingan puzzle mulai menyatu bagi Allegri.

Artikel ini merupakan terjemahan dari artikel berbahasa Inggris yang ditulis Luca Cetta untuk football-italia.net

No comments: