BLOG: The goals must start flowing if #Juventus are to succeed this season, says @l_cetta https://t.co/t46QLCyB2q pic.twitter.com/AeYj3T9SHX
— footballitalia (@footballitalia) November 12, 2015
Juventus memang mencetak 3 gol di Empoli minggu lalu, tapi jauh dari meyakinkan. Luca Cetta mengatakan I bianconeri harus meningkat di kotak penalti.
Sepakan Massimo Maccarone pastinya telah membawa kembali kenangan akan Sassuolo. Dan laga melawan Empoli hingga titik itu mengikuti sebuah pola yang sama: bukaan yang ceroboh dihukum dengan sebuah gol. Babak pertama Juventus di stadion Mapei dianggap "tak dapat diterima" oleh kapten Gianluigi Buffon, di mana mereka tertinggal 1-0. Yang membedakan kedua laga itu adalah pada minggu lalu Juve berhasil bangkit.
Mereka mencetak lebih dari 2 gol dalam 1 laga untuk kedua kalinya musim ini. Namun, tandang ke Tuscan juga menunjukkan kekurangan di lini serang, yang mana belum mencapai level musim-musim sebelumnya.
Mario Mandžukić mencetak gol jelek sebagaimana yang kita saksikan. Gol ketiga seharusnya dianulir karena offside. Perlu Patrice Evra untuk menunjukkan bagaimana hal itu dilakukan di mana sundulannya membawa Juve unggul sebelum jeda paruh waktu.
Singkatnya ada hal-hal positif bagi Massimiliano Allegri. Timnya mengamankan kemenangan ketiga dalam 4 laga Serie A. Mereka di posisi ke-7, saat ini 8 poin dari posisi Liga Champions. Direktur umum Giuseppe Marotta telah mendeklarasikan peringkat ketiga sebagai "target minimal untuk dicapai".
Namun dengan hanya 16 gol dari 12 laga, raksasa Turin tertinggal dari Roma dengan 27 gol. Paulo Dybala telah menjadi kontributor utama berkat 5 golnya, termasuk gol penutup melawan Empoli. Artinya dia mencetak 1 gol lebih banyak dibandingkan gol gabunga dari 3 peyerang lainnya. Gol kedua Mandžukić di Serie A membuatnya melewati Álvaro Morata dan Simone Zaza. Dalam 2 musim terakhir Juve dapat bersandar pada Carlos Tévez, dan pada awalnya Fernando Llorente untuk mencetak gol secara reguler. Hal tersebut telah tiada musim ini.
Allegri telah mengutak-atik lini serangnya selama musim berjalan. Cedera tidak membantu, dengan Morata dan Mandžukić menghabiskan waktu di kursi penonton. Terlihat sedikit kepaduan dan hal itu tercermin di area penalti. Hal itu terbukti Minggu lalu di mana Juve kesulitan di sepertiga akhir lapangan.
Juan Cuadrado telah membuktikan diri sebagai berkah dan kutukan. Dia mengesankan sejak tiba dari Chelsea, berpatroli di sisi kanan entah sebagai bek sayap kanan atau sebagai sayap kanan sebagaimana terlihat saat melawan Empoli. Dia membuat kontribusi penting: 1 gol dan 3 assist, tapi Juve menjadi terlalu tergantung kepadanya.
Allegri tidak memiliki pemain yang ekuivalen di sisi kiri. Dybala dan Morata masing-masing telah bermain di sayap kiri. Dybala bersinar di 700 menitnya berlaga di Serie A, mencetak gol terbanyak di antara 5 penyerang dan bila pelatih bisa mencari cara untuk mendapatkan performa terbaik dari duo Amerika Selatan pada saat bersamaan, Juventus akan menjadi lebih baik.
Minimnya gol telah diperbesar oleh kemampuan bertahan sang juara bertahan yang belum maksimal. Area kekuatan selama 4 musim terakhir, di mana rekor pertahanan terburuk Juve selama semusim adalah kebobolan 24 gol. Dalam 152 laga Serie A mereka hanya kebobolan 91 gol.
Musim ini mereka sudah kebobolan 11 gol. Makin mengkhawatirkan, Empoli adalah ketujuh kalinya Juve tertinggal lebih dulu di Serie A, ditambah 2 di Eropa. Kebanyakan tertinggal oleh gol dari peluang pertama yang didapat lawan. Buffon dibiarkan terkandas oleh kesalahan umum dan sebagai hasilnya hanya bisa meraih 6 clean sheet. Ini bukan angka yang biasa tersematkan dengan Juventus.
Kesalahan-kesalahan tersebut menaruh tekanan pada lini depan yang sudah gagap. "Masalahnya global sebagaimana kami kebobolan terlalu banyak gol, tapi juga tidak bisa mencetak cukup gol. Kami harus memperbaiki kesalahan ini dan kembali ke keseimbangan," peraya Chiellini.
Lalu akhirnya lini tengah. Allegri sekarang punya pemain-pemain pilihan pertamanya setelah masalah cedera berkepanjangan bagi Sami Khedira dan Claudio Marchisio. Mereka terlihat lebih baik dengan dua pemain tersebut dimainkan.
Mengontrol permainan adalah ciri khas musim-musim lalu dan dapat membantu mengurangi terpisahnya lini serang dan lini lainnya.
Pekan berikut melawan Milan mewakili awal dari akhir rumit dari 2015, yang mana juga termasuk pertemuan dengan Lazio dan Fiorentina, ditambah penutupan babak grup Liga Champions. Juventus harus bermain sebagai sebuah unit dan berkembang di area kunci tersebut bila mereka ingin mencapai target mereka.
Artikel ini merupakan terjemahan dari artikel berbahasa Inggris dari link berikut:
http://www.football-italia.net/75666/juventus-need-penalty-area-improvement
Sepakan Massimo Maccarone pastinya telah membawa kembali kenangan akan Sassuolo. Dan laga melawan Empoli hingga titik itu mengikuti sebuah pola yang sama: bukaan yang ceroboh dihukum dengan sebuah gol. Babak pertama Juventus di stadion Mapei dianggap "tak dapat diterima" oleh kapten Gianluigi Buffon, di mana mereka tertinggal 1-0. Yang membedakan kedua laga itu adalah pada minggu lalu Juve berhasil bangkit.
Mereka mencetak lebih dari 2 gol dalam 1 laga untuk kedua kalinya musim ini. Namun, tandang ke Tuscan juga menunjukkan kekurangan di lini serang, yang mana belum mencapai level musim-musim sebelumnya.
Mario Mandžukić mencetak gol jelek sebagaimana yang kita saksikan. Gol ketiga seharusnya dianulir karena offside. Perlu Patrice Evra untuk menunjukkan bagaimana hal itu dilakukan di mana sundulannya membawa Juve unggul sebelum jeda paruh waktu.
Singkatnya ada hal-hal positif bagi Massimiliano Allegri. Timnya mengamankan kemenangan ketiga dalam 4 laga Serie A. Mereka di posisi ke-7, saat ini 8 poin dari posisi Liga Champions. Direktur umum Giuseppe Marotta telah mendeklarasikan peringkat ketiga sebagai "target minimal untuk dicapai".
Namun dengan hanya 16 gol dari 12 laga, raksasa Turin tertinggal dari Roma dengan 27 gol. Paulo Dybala telah menjadi kontributor utama berkat 5 golnya, termasuk gol penutup melawan Empoli. Artinya dia mencetak 1 gol lebih banyak dibandingkan gol gabunga dari 3 peyerang lainnya. Gol kedua Mandžukić di Serie A membuatnya melewati Álvaro Morata dan Simone Zaza. Dalam 2 musim terakhir Juve dapat bersandar pada Carlos Tévez, dan pada awalnya Fernando Llorente untuk mencetak gol secara reguler. Hal tersebut telah tiada musim ini.
Allegri telah mengutak-atik lini serangnya selama musim berjalan. Cedera tidak membantu, dengan Morata dan Mandžukić menghabiskan waktu di kursi penonton. Terlihat sedikit kepaduan dan hal itu tercermin di area penalti. Hal itu terbukti Minggu lalu di mana Juve kesulitan di sepertiga akhir lapangan.
Juan Cuadrado telah membuktikan diri sebagai berkah dan kutukan. Dia mengesankan sejak tiba dari Chelsea, berpatroli di sisi kanan entah sebagai bek sayap kanan atau sebagai sayap kanan sebagaimana terlihat saat melawan Empoli. Dia membuat kontribusi penting: 1 gol dan 3 assist, tapi Juve menjadi terlalu tergantung kepadanya.
Allegri tidak memiliki pemain yang ekuivalen di sisi kiri. Dybala dan Morata masing-masing telah bermain di sayap kiri. Dybala bersinar di 700 menitnya berlaga di Serie A, mencetak gol terbanyak di antara 5 penyerang dan bila pelatih bisa mencari cara untuk mendapatkan performa terbaik dari duo Amerika Selatan pada saat bersamaan, Juventus akan menjadi lebih baik.
Minimnya gol telah diperbesar oleh kemampuan bertahan sang juara bertahan yang belum maksimal. Area kekuatan selama 4 musim terakhir, di mana rekor pertahanan terburuk Juve selama semusim adalah kebobolan 24 gol. Dalam 152 laga Serie A mereka hanya kebobolan 91 gol.
Musim ini mereka sudah kebobolan 11 gol. Makin mengkhawatirkan, Empoli adalah ketujuh kalinya Juve tertinggal lebih dulu di Serie A, ditambah 2 di Eropa. Kebanyakan tertinggal oleh gol dari peluang pertama yang didapat lawan. Buffon dibiarkan terkandas oleh kesalahan umum dan sebagai hasilnya hanya bisa meraih 6 clean sheet. Ini bukan angka yang biasa tersematkan dengan Juventus.
Kesalahan-kesalahan tersebut menaruh tekanan pada lini depan yang sudah gagap. "Masalahnya global sebagaimana kami kebobolan terlalu banyak gol, tapi juga tidak bisa mencetak cukup gol. Kami harus memperbaiki kesalahan ini dan kembali ke keseimbangan," peraya Chiellini.
Lalu akhirnya lini tengah. Allegri sekarang punya pemain-pemain pilihan pertamanya setelah masalah cedera berkepanjangan bagi Sami Khedira dan Claudio Marchisio. Mereka terlihat lebih baik dengan dua pemain tersebut dimainkan.
Mengontrol permainan adalah ciri khas musim-musim lalu dan dapat membantu mengurangi terpisahnya lini serang dan lini lainnya.
Pekan berikut melawan Milan mewakili awal dari akhir rumit dari 2015, yang mana juga termasuk pertemuan dengan Lazio dan Fiorentina, ditambah penutupan babak grup Liga Champions. Juventus harus bermain sebagai sebuah unit dan berkembang di area kunci tersebut bila mereka ingin mencapai target mereka.
Artikel ini merupakan terjemahan dari artikel berbahasa Inggris dari link berikut:
http://www.football-italia.net/75666/juventus-need-penalty-area-improvement
No comments:
Post a Comment