Gonzalo Higuaín: ‘The way we act on a human level is very important’ https://t.co/ayVDHxvAwl via @guardian_sport— The Guardian (@guardian) September 12, 2017
Dalam sebuah wawancara eksklusif si penyerang Juventus berbicara tentang ‘kewajibannya’ mencetak gol, menonton Ronaldo Brasil menyarangkan bola ke gawang 2 juta kali dan mengapa perhatian terbesar seorang pemain seharusnya adalah bagaimana mereka bersikap.
![]() |
| Gonzalo Higuaín sudah meneruskan apa yang ditinggalkannya musim lalu di Juventus, dengan 2 gol dalam 3 laga awal bagi juara bertahan Italia. Foto: Reuters |
Oleh Paolo Bandini
Gonzalo Higuaín tak mengingat kapan kali pertamanya. Dia bisa memberitahu Anda tentang mencetak gol buat River Plate di usia 18 tahun, tentang gol pertamanya bersama Real Madrid saat tandang melawan Atlético, atau bagaimana dia menandai debut Argentina dia dengan penyelesaian dingin ke gawang Peru. Namun, coba minta dia untuk mengingat kembali gol pertamanya, atau bahkan cukup satu yang berkesan dari masa kecilnya, dan entah bagaimana tak ada yang terlintas di benaknya.
“Tidak,” jawabnya. “Aku mengingat yang lainnya terlebih dahulu.”
Mungkin kita seharusnya tidak perlu terkejut. Ketika Anda sudah mencetak begitu banyak gol seperti yang dilakukan Higuaín maka cukup sulit untuk berharap mampu mengingat semuanya. Dia sudah mencetak 60 gol dalam 2 musim terakhir di Serie A saja – dan itu tidak termasuk kompetisi Piala. Secara total, dia sudah mencetak hampir 300 gol dalam karier profesionalnya.
Lebih dari itu, Higuaín mungkin kesulitan mengingat gol-gol pertamanya karena alasan sederhana yaitu dia memulainya pada usia yang amat muda. Sebagai putra dari pesepak bola profesional, permainan ini sudah mendefinisikan kehidupannya sejak hari pertama. Dia memegang paspor Prancis karena ayahnya, Jorge, menerima transfer dari Boca Juniors ke Brest beberapa bulan sebelum Gonzalo lahir.
Tiga dekade kemudian, si penyerang Juventus yakin bahwa dia memiliki beberapa kecakapan lapangan dari ayahnya. “Tentu saja,” kata Higuaín. “Dia adalah seorang bek, jadi dia mengajariku semua hal yang tak disukai seorang bek. Oleh karenya, aku memiliki sebuah keunggulan sejak awal. Fakta dia bermain di belakang berarti dia bisa menunjukkan kepadaku apa yang tak diinginkan bek untuk aku lakukan.”
Dan apakah itu, tepatnya? “Wah, aku tak akan memberitahu kamu! Itu rahasia.”
Dia tersenyum saat berbicara, tapi dia tak bercanda. Mencetak gol adalah pekerjaan Higuaín. Mengapa dia mau memberikan informasi semacam itu secara gratis? Lagi pula, Jorge bukanlah satu-satunya mentor dia. Beberapa materi pelajaran terhebat Higuaín sudah tersedia di YouTube: video dari Ronaldo Brasil, sebuah koleksi yang biasa disimpannya dalam VHS.
Dia memiliki kekuatan fisik seperti idolanya, sebuah kemauan untuk menggunakan kekuatan juga kemahiran untuk menggoncang lawan. Saat dicecar mengenai apa yang membuat seorang penyerang hebat, dia malah berbicara tentang perlunya suatu rasa lapar, kesatuan pikiran di atas lapangan. “Bagiku, ini selalu soal memiliki gambaran gol dalam pikiranku. Itulah yang fundamentil, aku pikir.”
Mantan rekan setimnya di Napoli, Dries Mertens menunjukkan hal yang sama dalam sebuah wawancara tahun ini, menyatakan bahwa Higuaín bangun setiap pagi dengan gol di dalam matanya.
![]() |
| Higuaín merayakan gol River Plate ke gawang Boca Juniors di Buenos Aires pada 2006. Foto: Enrique Marcarian/Reuters |
Kita bisa menyebut hal itu sebagai sebuah obsesi, mungkin? “Tidak, bukan begitu. Lebih seperti sebuah kewajiban. Hal tradisional bahwa Anda mencetak gol sebagai seorang penyerang.”
Higuaín dengan cepat menyatakan bahwa dia menikmati tugas ini, bukan berarti bahwa klarifikasi semacam itu diperlukan. Siapapun yang pernah melihat Higuaín merayakan gol pasti mengenali akan seseorang yang menikmati pekerjaannya. Lawannya bisa jadi Barcelona atau Frosinone, golnya sentuhan di muka gawang atau tendangan gledek dari jarak 30 meter, tapi reaksinya tetap sama: tangan direntangkan lebar, mata yang buas dan mulut mengaum.
Bahkan, kata itu, “kewajiban”, tergantung di udara. Higuaín bukanlah seseorang yang mengingkari beban di pundaknya. Saat seorang jurnalis dari El Mundo menanyakannya tentang hidup di bawah sorotan media tahun ini, si penyerang menunjukkan bahwa dia sudah berurusan dengan tekanan semacam ini sejak momen dia menerobos masuk ke tim utama River Plate.
“Aku selalu menginginkannya,” kata Higuaín. “Itulah sebabnya aku bermain sepak bola. Seseorang yang tak bisa merasakan tekanan ini tak mencintai olah raga ini. Sepak bola adalah tekanan konstan, dari hari ke hari. Anda perlu mengetahui bagaimana hidup dengan hal tersebut.”
Higuaín melakukannya lebih baik dari siapapun. Berapa banyak pemain di antara liga-liga terbesar Eropa yang sudah menampilkan konsistensi sedemikian beringas selama satu dekade terakhir? Dari Real Madrid ke Napoli dan kini Juventus, dia sudah memecahkan patokan penyerang untuk 1 gol setiap 2 laga dari tahun ke tahun – bahkan selama musim di mana dia secara rutin dimainkan sebagai pemain pengganti di Bernabéu.
Orang bisa mendebat, bahkan lebih lagi, bahwa dia hanya menjadi makin bagus. Higuaín meraih predikat pemain tersubur dalam semusim dalam sejarah Serie A pada musim 2015‑16, mencetak 36 gol walaupun harus absen dalam 3 laga akibat hukuman. Jumlah golnya di Liga Champions juga meningkat sejak tiba di Italia – dengan 10 gol dalam 19 laga buat Napoli dan Juventus.
![]() |
| Gonzalo Higuaín mencetak salah satu dari 36 gol dalam musim tersuburnya pada 2015-16, gol terakhirnya di Napoli. Foto: NurPhoto via Getty Images |
Meskipun begitu, semua tekanan yang ada membuat hal ini sulit terdengar seperti eksistensi yang menggembirakan. Bisakah sepak bola benar-benar masih menyenangkan ketika Anda dengan amat bersemangat sadar akan harapan atas diri Anda?
Pikiran ini memancing sebuah tawa yang gelisah. “Sepak bola bagiku adalah olah raga yang paling sering berubah di dunia,” kata Higuaín. “Karena Anda bisa bermain 7 laga beruntun, mencetak gol dalam setiap laga, lalu Anda tidak mencetak gol dalam 2 laga dan langsung dibilang bermain buruk. Anda berada dalam krisis. Namun itulah yang terjadi pada orang yang kuat pada apa yang mereka lakukan, bukan? Setiap orang terbiasa melihat Anda mencetak banyak gol, dan ketika Anda tak mencetak gol dalam 2 laga mereka terkejut. Hal itu sebenarnya suatu hal yang indah, imut. Jadi, seperti yang aku katakan, bagiku sepak bola selalu berubah. Tapi, ya, sepak bola masih menyenangkan.”
Itu adalah sebuah jawaban yang tersalurkan: menempatkan titik berat pada reaksi orang lain, daripada pengalamannya sendiri di atas lapangan. Mungkin kita perlu untuk menempatkan kembali pertanyaannya. Kita sudah tahu juga bahwa Higuaín masih menyarangkan bola ke gawang. Jadi apakah keindahan sepak bola ada di permainannya atau kemenangannya?
“Bagiku ada di kemenangannya,” jawab Higuaín. “Jelasnya jika Anda bermain bagus dan menang, hal itu lebih baik. Namun bermain bagus dan tidak menang tak memberikan Anda apapun pada akhirnya.”
Dengan 3 trofi La Liga, 1 Scudetto diraih di Serie A dan masih banyak lagi trofi di Italia dan Spanyol, Higuaín jelas tak kekurangan piala. Namun, ketika kita membicarakan tentang kemenangan, mustahil untuk mengabaikan bagaimana dia begitu dekat dengan trofi-trofi terbesar di atas segalanya.
Dalam tiga setengah tahun terakhir, Higuaín kalah dalam final Piala Dunia, Liga Champions dan 2 Copa América. Tentu ini adalah kekalahan tim bukan perorangan, tapi dia memang menyia-nyiakan peluang yang mana bisa membantu mengubah keadaan menjadi berbeda. Apakah hal itu menghantuinya mengingat apa yang mungkin dapat terjadi? Apakah dia pernah mulai merasa bahwa dia mungkin dikutuk dalam laga-laga terpenting?
Jawabannya tegas namun singkat. “Tidak,” kata Higuaín. “Aku selalu percaya bahwa merupakan hal indah untuk memenangkan laga-laga penting, tapi juga amat penting dengan hanya mencapai momen-momen tersebut. Aku sungguh meyakini itu. Juve sudah memainkan 2 final Liga Champions dalam 3 tahun. Hal itu sangat sulit untuk dilakukan.”
Tak semua orang akan terpuaskan dengan jawaban ini. Opera sabun perputaran uang yang tak lain adalah sepak bola moderen menuntut cerita cepat, pahlawan dan penjahat, plot disebut dalam hitam dan putih. Pemenang menang dan pecundang kalah. Dan pecundang yang kalah terakhir – bahkan setelah menggilas para lawan lain untuk mencapai titik tersebut – entah bagaimana dibuang sebagai pecundang terbesar di antara semuanya.
Pikiran ini memancing sebuah tawa yang gelisah. “Sepak bola bagiku adalah olah raga yang paling sering berubah di dunia,” kata Higuaín. “Karena Anda bisa bermain 7 laga beruntun, mencetak gol dalam setiap laga, lalu Anda tidak mencetak gol dalam 2 laga dan langsung dibilang bermain buruk. Anda berada dalam krisis. Namun itulah yang terjadi pada orang yang kuat pada apa yang mereka lakukan, bukan? Setiap orang terbiasa melihat Anda mencetak banyak gol, dan ketika Anda tak mencetak gol dalam 2 laga mereka terkejut. Hal itu sebenarnya suatu hal yang indah, imut. Jadi, seperti yang aku katakan, bagiku sepak bola selalu berubah. Tapi, ya, sepak bola masih menyenangkan.”
Itu adalah sebuah jawaban yang tersalurkan: menempatkan titik berat pada reaksi orang lain, daripada pengalamannya sendiri di atas lapangan. Mungkin kita perlu untuk menempatkan kembali pertanyaannya. Kita sudah tahu juga bahwa Higuaín masih menyarangkan bola ke gawang. Jadi apakah keindahan sepak bola ada di permainannya atau kemenangannya?
“Bagiku ada di kemenangannya,” jawab Higuaín. “Jelasnya jika Anda bermain bagus dan menang, hal itu lebih baik. Namun bermain bagus dan tidak menang tak memberikan Anda apapun pada akhirnya.”
Dengan 3 trofi La Liga, 1 Scudetto diraih di Serie A dan masih banyak lagi trofi di Italia dan Spanyol, Higuaín jelas tak kekurangan piala. Namun, ketika kita membicarakan tentang kemenangan, mustahil untuk mengabaikan bagaimana dia begitu dekat dengan trofi-trofi terbesar di atas segalanya.
Dalam tiga setengah tahun terakhir, Higuaín kalah dalam final Piala Dunia, Liga Champions dan 2 Copa América. Tentu ini adalah kekalahan tim bukan perorangan, tapi dia memang menyia-nyiakan peluang yang mana bisa membantu mengubah keadaan menjadi berbeda. Apakah hal itu menghantuinya mengingat apa yang mungkin dapat terjadi? Apakah dia pernah mulai merasa bahwa dia mungkin dikutuk dalam laga-laga terpenting?
Jawabannya tegas namun singkat. “Tidak,” kata Higuaín. “Aku selalu percaya bahwa merupakan hal indah untuk memenangkan laga-laga penting, tapi juga amat penting dengan hanya mencapai momen-momen tersebut. Aku sungguh meyakini itu. Juve sudah memainkan 2 final Liga Champions dalam 3 tahun. Hal itu sangat sulit untuk dilakukan.”
Tak semua orang akan terpuaskan dengan jawaban ini. Opera sabun perputaran uang yang tak lain adalah sepak bola moderen menuntut cerita cepat, pahlawan dan penjahat, plot disebut dalam hitam dan putih. Pemenang menang dan pecundang kalah. Dan pecundang yang kalah terakhir – bahkan setelah menggilas para lawan lain untuk mencapai titik tersebut – entah bagaimana dibuang sebagai pecundang terbesar di antara semuanya.
![]() |
| Higuaín harus melewatkan trofi Liga Champions setelah Juventus kalah 4-1 oleh Real Madrid di final pada Juni. Foto: Daniel Dal Zennaro/EPA |
Satu-satunya respon yang pantas, dalam benak Higuaín adalah biarkan segalanya membersihkanmu. “Filosofiku untuk sepak bola adalah bahagia dengan apa yang sedang Anda lakukan. Ketika mereka mengatakan bahwa Anda adalah salah satu yang terkuat di dunia, Anda perlu melanjutkan hidup sama seperti saat mereka mengatakan Anda telah tamat. Perhatikan orang-orang yang menginginkan hal-hal baik bagimu: rekan-rekan setim, para staf… Jika ayahku mengatakan sesuatu, atau manajerku mengatakan sesuatu, atau presiden klubku mengatakan sesuatu, hal tersebut menarik bagiku. Bukan orang yang tak mengenal aku dan tidak mengatakan hal-hal ini untuk membantu aku menjadi lebih baik.”
Di tengah segala kebisingan, Higuaín, 29 tahun, berpendapat bahwa hal yang terpenting adalah untuk selalu mempertahankan perasaan yang kuat akan mau menjadi orang seperti apa Anda. Dalam hal sepak bola, ambisinya jelas: “Aku ingin meninggalkan namaku pada level tertinggi dalam olah raga ini.” Untuk melakukannya, “Anda perlu memiliki kerendahan hati untuk terus berkembang,” katanya, menambahkan: “Gigi Buffon selalu mengatakan yang sama: dia hampir berumur 40 tahun dan dia masih yakin dia bisa berkembang. Bayangkan. Aku merasa seperti aku juga bisa melakukannya. Aku muda. Aku berharap aku masih punya banyak tahun ke depan dalam sepak bola.”
Namun untuk semua dorongan kompetitifnya, jelas bahwa dia masih memegang beberapa nilai lainnya yang lebih penting. “Secara manusiawi, aku lebih memilih menjadi ayah yang baik bagi anakku, ketika saatnya tiba aku menjadi seorang ayah, dan menjadi orang yang baik. Ketika Anda melakukan hal-hal baik di luar hidupmu, maka akan kembali terbayar kepadamu. Ketika Anda melakukan hal-hal buruk di luar hidupmu, maka sulit pekerjaanmu menjadi baik. Mungkin ada satu atau dua orang yang mematahkan aturan tersebut, baiklah. Namun jika Anda oke dengan diri sendiri, jika Anda membawa sebuah energi positif, 8 dari 10 hal itu akan berjalan baik. Itulah sebabnya aku pikir bahwa cara kita bertindak secara manusiawi sangat penting. Dan sering kali orang-orang tak menganggap itu sebagai hal penting. Mereka menempatkan pekerjaan lebih penting daripada cara bertindak mereka sebagai manusia.”
Higuaín punya tato baru yaitu inisial anggota keluarga di lengan kanan bawahnya, sebuah pengingat akan apa yang terpenting dalam dunianya. Sebagaimana Juventus bersiap untuk memulai kampanye Liga Champions lainnya dengan bertandang ke Barcelona pada Selasa malam, jangan bercanda bahwa dia sudah kehilangan sepenggal dorongan kompetitif.
Ditanyakan apa ambisinya untuk musim yang baru, dia menjawab tanpa keraguan. “Segalanya. Di sini, di Juventus, Anda bermain untuk memenangkan segalanya. itulah mentalitasnya. Itulah yang mereka ajarkan kepada Anda ketika pertama kali Anda berjalan masuk ke pintu. Musim lalu kami begitu dekat. Musim ini kami akan mencoba lagi.”
Gonzalo Higuaín tak mengingat kapan kali pertamanya. Namun mungkin itu hanya karena gol berikutnya yang lebih berarti baginya.
Di tengah segala kebisingan, Higuaín, 29 tahun, berpendapat bahwa hal yang terpenting adalah untuk selalu mempertahankan perasaan yang kuat akan mau menjadi orang seperti apa Anda. Dalam hal sepak bola, ambisinya jelas: “Aku ingin meninggalkan namaku pada level tertinggi dalam olah raga ini.” Untuk melakukannya, “Anda perlu memiliki kerendahan hati untuk terus berkembang,” katanya, menambahkan: “Gigi Buffon selalu mengatakan yang sama: dia hampir berumur 40 tahun dan dia masih yakin dia bisa berkembang. Bayangkan. Aku merasa seperti aku juga bisa melakukannya. Aku muda. Aku berharap aku masih punya banyak tahun ke depan dalam sepak bola.”
Namun untuk semua dorongan kompetitifnya, jelas bahwa dia masih memegang beberapa nilai lainnya yang lebih penting. “Secara manusiawi, aku lebih memilih menjadi ayah yang baik bagi anakku, ketika saatnya tiba aku menjadi seorang ayah, dan menjadi orang yang baik. Ketika Anda melakukan hal-hal baik di luar hidupmu, maka akan kembali terbayar kepadamu. Ketika Anda melakukan hal-hal buruk di luar hidupmu, maka sulit pekerjaanmu menjadi baik. Mungkin ada satu atau dua orang yang mematahkan aturan tersebut, baiklah. Namun jika Anda oke dengan diri sendiri, jika Anda membawa sebuah energi positif, 8 dari 10 hal itu akan berjalan baik. Itulah sebabnya aku pikir bahwa cara kita bertindak secara manusiawi sangat penting. Dan sering kali orang-orang tak menganggap itu sebagai hal penting. Mereka menempatkan pekerjaan lebih penting daripada cara bertindak mereka sebagai manusia.”
Higuaín punya tato baru yaitu inisial anggota keluarga di lengan kanan bawahnya, sebuah pengingat akan apa yang terpenting dalam dunianya. Sebagaimana Juventus bersiap untuk memulai kampanye Liga Champions lainnya dengan bertandang ke Barcelona pada Selasa malam, jangan bercanda bahwa dia sudah kehilangan sepenggal dorongan kompetitif.
Ditanyakan apa ambisinya untuk musim yang baru, dia menjawab tanpa keraguan. “Segalanya. Di sini, di Juventus, Anda bermain untuk memenangkan segalanya. itulah mentalitasnya. Itulah yang mereka ajarkan kepada Anda ketika pertama kali Anda berjalan masuk ke pintu. Musim lalu kami begitu dekat. Musim ini kami akan mencoba lagi.”
Gonzalo Higuaín tak mengingat kapan kali pertamanya. Namun mungkin itu hanya karena gol berikutnya yang lebih berarti baginya.




No comments:
Post a Comment