Pages

Tuesday, June 20, 2017

Wawancara Eksklusif Allegri dengan Calcio & Finanza

Bagaimana Saya Membangun Sebuah Tim Juara


Walaupun ide soal pelatih juga berlaku sebagai seorang manajer bisnis masih merupakan konsep asing di Italia, pelatih Juventus Massimiliano Allegri berbicara kepada Calcio e Finanza dalam sebuah wawancara eksklusif tentang filosofi manajerial dia untuk menciptakan sebuah tim juara. Pemilik juara ganda domestik untuk 3 musim beruntun (juara Serie A dan Piala Italia) mendiskusikan beberapa topik yang berkaitan dengan manajemen tim di luar lapangan.

Pelatih asal Livorno yang sebentar lagi berumur 50 tahun mengadakan Mr. Allegri Management Bootcamp pertamanya di mana dia berbargi pengalamannya kepada para manajer dan wirausahawan di kampung halamannya pada 17 Juni 2017. Acara ini didedikasikan kepada mereka di bidang manajemen dan ekonomi menutup edisi ketiga dari Mr. Allegri Junior Camp week, sebuah kamp sepakbola menyenangkan yang didedikasikan untuk mengajari anak-anak tentang calcio (=sepakbola) dan mengumpulkan sumbangan untuk aksi sosial, dalam kolaborasi dengan Innext dan staf manajerial Allegri yang dikoordinir oleh Andrea Saule.

Allegri mendefinisikan dirinya sendiri sebagai seorang “pebisnis” – istilah yang sering berkonotasi negatif tapi dalam sorotan positif: “Klub-klub sepakbola adalah bisnis dan kami adalah bagian dari itu. Tugas kami adalah memberikan hasil yang akan meningkatkan nilai dari para pemain individual. Menjadi seorang pebisnis berarti bekerja dalam visi ini.

“Hari ini di Italia ada hampir sebuah ketakutan di mana seorang pelatih bertanggung jawab atas area teknikal tapi dia harus bukan merupakan seorang manajer – lanjut Allegri – namun sebagaimana seseorang bekerja dalam perusahaan menetapkan dasar untuk kesuksesan dan oleh karenanya perlu untuk mengetahui strategi-strategi ekonomi dari klub dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh klub. Saat saya mendengar tentang strategi dan pembicaraan tentang pemain-pemain yang datang dan pergi, khususnya dengan media, saya mengerti bahwa ini cenderung menyederhanakan hal-hal, namun tak selalu begitu kejadiannya, hal yang terpenting adalah menjadi realistis dalam menganalisa dan memahami situasi yang ada dan ini adalah tugas kami.

Pada dasar dari segalanya, Allegri mengidentifikasi sebuah hubungan dengan staf yang harus dibangun dengan pertukaran informasi yang berkelanjutan, tanpa kepelikan dan di mana kualitas yang dia letakkan pada lapangan adalah seni memerintah melalui delegasi dan kepercayaan.

“Saya telah membangun sebuah grup kerja penting dari orang-orang yang amat bagus dalam bidang mereka, bahkan lebih bagus dari diriku sendiri. Saya adalah seseorang yang banyak mendelegasikan tugas karena saya tak punya kemampuan untuk menangani segala hal. Setelah itu, saya tetap menjadi titik referensi yang diharapkan tapi saya tidak mencampuri karena saya tidak bisa memutuskan untuk mereka. Saya harus termotivasi oleh mereka untuk melakukan yang lebih baik.

“Dari hari pertama bersama Juventus – dia menjelaskan saat kemudian berbicara dengan para manajer dan wirausahawan – targetku adalah menciptakan suatu jaringan komunikasi antara seluruh anggota staf, dari fisioterapis ke dokter ke nutrisionis ke staf kepelatihanku sendiri yang menyiapkan latihan dan kerja di lapangan. Bagi saya adalah penting bahwa ada konfrontasi dan pertukaran.”

Tak hanya itu, adalah penting bahwa si penjaga gudang, petugas lapanganm seluruh orang-orang yang berada di sekitar tim memiliki sebuah hubungan terbuka terutama dengan pelatih.
Not only that, it is crucial that the warehouse keeper, the field clerk, all the people who are around the team have an open relationship especially with the coach.

“Aku percaya – kata pelatih Juventus – bahwa saat Anda melihat sebuah tim di lapangan Anda juga melihat bagian dari kondisi latihan dan kesehatan dari tim, karena juga dari detil-detil ini Anda melihat apakah di situ ada kerja sama tim yang terorkestrasi bersama-sama dengan baik. Tak hanya di atas lapangan. Penjadwalan kerja makin cocok seiring waktu terjadwal kepada para sponsor, TV/media dan konstituen eksternal lainnya semata-mata pada suatu aspek olahraga.”

Max Allegri, yang barusan ini berada dalam pembicaraan menyangkut perpanjangan kontraknya dengan Adidas, dan mendapat ketertarikan dari perusahaan-perusahaan lain di bidang yang secara alami sadar akan seorang sosok sentral dalam sepakbola Italia seperti dirinya, melihat relasi dengan sponsor lebih sebagai sebuah peluang daripada sebuah kebutuhan.

“Hubungan dengan sponsor – katanya – mewakili peluang untuk meningkatkan klub dan masa depan ekonominya. Manajemen waktu dan sebaliknya TV dan sponsor adalah bagian dari sepakbola yang sungguh berbeda ini daripada yang terjadi 30 tahun yang lalu ketika sistem didasarkan pada para presiden yang menikmati memiliki sebuah klub.

“Masih ada beberapa ketidakpedulian soal ini. Dalam hal kurangnya pengetahuan akan apakah kerja kami secara spesifik, tapi secara pribadi saya mengerti bahwa organisasi tidak bisa mengabaikan momen-momen ini yang merupakan bagian integral dari kerja semusim dan harus dialamatkan dengan keseriusan yang sama seperti halnya semua tugas kami.”

Khususnya pada saat-saat ini, di atas semua hubungan dengan klub pada bursa transfer, Allegri menjelaskan:

“Secara operasional akan ada tugas harian untuk dikerjakan, tapi selalu dalam kerja sama intim untuk memahami kebutuhan klub. Terkadang kami saling mengabarkan bahkan 5 kali sehari. Apa yang saya rasa paling penting adalah bahwa dialog terus berkesinambungan baik untuk membuat evaluasi teknis maupun untuk memahami kebutuhan tim dan klub.”

Terakhir, sebuah penjelasan soal sikap saat ada pilihan menyakitkan untuk dibuat: 

“Di masa lalu ketika transfer keluar penting diumumkan, yang mana ditimbang dengan berat pada grup manajemen, saya selalu realistis tanpa pernah pesimistis. Saya percaya bahwa kami mestinya dalam kapasitas untuk mengeluarkan hal baik dari hal negatif. Itu sebabnya mengapa saya selalu bekerja dalam rencana klub, sementara menghadapi kepemilikan untuk membuat mereka sadar akan realitas sebuah level teknis yang didasari pada pilihan mereka, mempengaruhi bagaimana tim bisa mengejar, mendapatkan atau gagal mencapai hasil tertentu yang diharapkan. 

Artikel ini diterjemahkan dari artikel berbahasa Inggris dari situs en.calcioefinanza.com

No comments: