Pages

Friday, August 19, 2016

Juventus vs Fiorentina: Amarah


Rivalitas sengit telah berkobar selama berdekade dan sangat berarti bagi kedua kubu, tulis Chloe Beresford.

Saat jadwal laga musim baru diumumkan, laga perdana musim ini membuat fans Serie A menghela napas dalam-dalam. Juventus akan menghadapi Fiorentina, rival sengit mereka.

Beberapa orang mengatakan bahwa antara pertikaian antara kedua klub berat sebelah, bahwa rivalitas non-geografis ini dipicu oleh kedengkian klub yang lebih kecil. Raut wajah Antonio Conte di Firenze pada Oktober 2013 mengatakan sebaliknya. Hal ini tak seharusnya terjadi. Fiorentina belum membaca skenarionya.

Setelah 2 Scudetti beruntun di bawah Conte, Juventus memulai musim 2013/14 jauh meninggalkan yang lain, tak terkalahkan dalam 7 laga, dengan hanya meraih 1 hasil imbang saat tandang ke Inter pada pertengahan September. Saat mereka menghadapi Fiorentina rival sengit mereka di Stadion Artemio Franchi pada 20 Oktober 2013, adalah hanya situasi normal pada saat turun minum, sebuah penalti Carlos Tévez dan sebuah gol dari Paul Pogba membuat sang juara unggul 0-2.
Namun pada menit ke-66, laga berubah ketika Fiorentina juga dihadiahkan tendangan penalti. Giuseppe Rossi yang adalah aktor di balik ini, memantik gol-gol cepat dalam 12 menit yang lalu menempatkan tuan rumah unggul 3-2. Keunggulan tipis atas lawan setangguh itu seharusnya menimbulkan kegelisahan, namun pada menit ke-80, Pepito Rossi mencetak hat-trick dan tempat baginya dalam sejarah La Viola.

Bangkit dari ketertinggalan 0-2 hingga menang atas I bianconeri adalah suatu hal yang jarang terjadi, bahkan klub asal Tuskan belum pernah mengalahkan rival mereka dalam laga kompetitif sejak 2008, dan kemenangan sebelumnya lagi terjadi pada musim 1998/99. Walaupun kalah dari La Viola pada 2013, Juve pada akhirnya tetap mencetak rekor 102 poin di musim tersebut, unggul jauh 37 poin atas Fiorentina di posisi keempat.

Jangan salah, hasil ini berarti sesuatu bagi kedua klub yang saling membenci satu sama lain.

Setelah awal yang begitu buruk di musim lalu, I bianconeri akan menghadapi laga pembuka yang menggiurkan melawan Fiorentina pada 20 Agustus 2016. Tak diragukan lagi bahwa anak asuh Paulo Sousa akan mencoba mengulang satu-satunya kemenangan mereka di Stadion Juventus, ketika 2 gol Mohammed Salah memberi mereka keunggulan yang mengejutkan di leg pertama semifinal Piala Italia 2014/15.

Bahwa Juventus mencapai final musim tersebut dengan kemenangan telak 0-3 di Artemio Franchi setelah rival mereka sudah menuntaskan laga tandang berat di Turin, makin menegaskan mengapa kebencian terasa sangat kuat di Firenze. Sementara Si Nyonya Tua dapat mengalihkan dirinya dari kubu Tuskan dengan semua koleksi tropinya, musuh mereka terus fokus pada apa yang mungkin bisa terjadi.

Di mata fans Fiorentina, ladri atau para maling (sebutan yang mereka sematkan untuk Juventus), tidak hanya mencuri para pemain dari klub mereka dan juga klub lainnya di semenanjung Italia, tapi juga merenggut sebuah Scudetto yang didambakan mereka di tahun 1982. 

Jelang laga pamungkas musim itu, keduanya memiliki poin yang sama, La Viola hanya meraih imbang 0-0 dengan Cagliari di mana sebuah gol Giancarlo Antognoni yang tampaknya sah dianulir oleh wasit. Sementara, Juventus melawan Catanzaro, menang 1-0 setelah Liam Brady mengkonversi penalti yang dipandang meragukan oleh fans Si Ungu.

Api perselisihan kembali berkobar lewat kejadian-kejadian yang dikompori oleh pemilik Fiorentina Andrea Della Valle di tahun 2012, ketika dia mengatakan kepada pers bahwa sudah "30 tahun sejak Scudetto virtual 1982," lalu lanjut mengatakan mereka merayakannya karena "semua orang merasakannya dalam dada mereka."

Jika saja perasaan itu masih terasa 30 tahun kemudian, bayangkan yang terjadi di Firenze tujuh musim berikutnya ketika gol Roberto Baggio membawa mereka ke final Piala UEFA. Di laga final itu, Fiorentina tidak hanya dikalahkan oleh Juventus rival sengit mereka, tetapi Juve kemudian pada musim panas membeli Roberto Baggio pahlawan pencetak gol mereka, hal yang menimbulkan kerusuhan di jalanan Firenze.

Luka-luka ini masih dalam di Firenze, yang menjadi alasan tepat mengapa Juve akan bersiap mendapat tamu yang super termotivasi pada sabtu malam waktu setempat. Fiorentina mungkin tidak sering menang melawan rival mereka ini, tetapi tiap kemenangan bernilai 100 bagi mereka.

Artikel ini diterjemahkan dari artikel berbahasa Inggris dari football-italia.net


No comments: