Pages

Monday, May 2, 2016

Dybala Bagi Kami (Wawancara dengan TS)



Bagaimana perjalanan Anda bersama Juve?
Seperti yang saya harapkan, saya tahu bahwa saya akan bergabung dengan salah satu tim terkuat di dunia dan memang demikian.

Bagaimana dengan awal buruk Anda?
Saya tak pernah menyesali keputusan saya begabung dengan Juve. Tak pernah. Bahkan dalam momen terburuk kami saat kami tertinggal 12 poin. Saya sadar banyak perubahan telah terjadi dan banyak dari kami harus menyadari seperti apa Juve dahulu. Dan terutama saya tahu ini belum berakhir.

Bagaimana dengan kebangkitan Juve?
Itu mengingatkan saya akan Piala Dunia 2006, mereka tidak memulai dengan baik dan hampir tersingkir namun mereka lalu melaju hingga puncak.

Apa Piala Dunia pertama yang Anda tonton?
Piala Dunia 2002 Korea & Jepang, saya tergila-gila pada Ronaldinho, saya mengagumi semua yang dia lakukan, dia idola saya.

Apa momen terbaik Anda di Juve?
Pertama kali saya kenakan seragam Juve dan menyadari saya adalah bagian dari tim. Itu merupakan emosi yang kuat.

Apa momen terburuk Anda di Juve?
Tereliminasi melawan Bayern. Masih menyakitkan, menyakitkan sekali dan bagiku lebih buruk, saya berada di depan TV di Turin. Malam yang mengerikan, malam itu turun salju, saya sendirian di rumah tak mampu menolong teman-temanku dan tak dapat berada di sana. Saya yakin kami sudah lolos, momen yang sangat buruk. Kami sangat dekat, saya lebih suka tak mengingatnya.

Apa momen terlucu Anda di Juve?
Ada banyak, kami memiliki banyak penghibur di ruang ganti, dari Paul (Pogba) yang membuat paling banyak lelucon, hingga Pereyra.

Apa gol terbaik Anda musim ini?
Gol melawan Sassuolo karena saya berlatih dan mempelajari tembakan itu dan berhasil.

Apa gol tersulit Anda musim ini?
Penalti melawan Chievo. Kami sementara tertinggal 1-0 dan saya sudah berada di tengah kritikan.

Siapa teman setim yang paling penting?
Bagi saya Claudio (Marchisio), dia selalu berada di sampingku sejak hari pertama.

Siapa teman setim yang paling mudah jadi akrab dengan Anda?
Paul (Pogba), Tucu (Pereyra), merekalah yang memutar musik.

Siapa rekan setim yang paling bijaksana?
Buffon, Evra dan beberapa lainnya. Mereka lebih dewasa, kami yang lebih muda selalu bercanda.

Apa nasihat dari Buffon, Evra dan yang lainnya?
Mereka banyak mengajari kami dan menjadi serius pada saat yang tepat, dan banyak lagi hal-hal yang tak bisa keluar dari ruang ganti.

Sebelum Ronaldinho, ada idola lain sebagai bocah?
Riquelme, pemain yang sangat saya sukai. Boca memiliki tim yang hebat saat itu.

Masih punya idola?
Tidak, tapi sebagai referensi, contohnya: rekan-rekan saya di Juve. Sekarang saya ingin menjadi diri saya sendiri dan imbalannya menjadi idola bagi bocah lainnya.

Bagaimana dengan kemiripan Anda dengan Messi?
Saya senang mendengar hal tersebut, itu berarti saya bermain dengan baik. Saya tak tahu apakah saya bisa menjadi seperti Messi, di usia saya dia telah memenangkan sebuah Ballon d'Or, mari katakan tujuan saya sekarang untuk memenangkan itu juga.

Apakah perbandingan dengan Messi tidak membebani Anda?
Tidak sama sekali. Itu menyenangkan saya, karena saya hanya mencoba menjadi diri saya sendiri.

Pogba bilang dia ingin menjadi lebih kuat, seperti Pele dan Maradona...
Dia bisa dan saya harap begitu. Dia memiliki kualitas mengagumkan. Bagiku, saya mencoba membuat batasan musim demi musim, saya tentukan target dan mencoba mencapainya. Tentunya saya selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk jadi lebih baik.
Di Italia mereka bertahan dengan keras dan baik, tim kecil tidak bermain sepakbola ceroboh seperti di Spanyol di mana mereka kebobolan 7 atau 8 gol. Messi dan Ronaldo tak akan bisa mencetak 80 atau 90 gol di Italia, mungkin 30-40 seperti Higuain, tapi pastinya tidak 80 gol.

Mengapa ada lebih banyak talenta di Argentina daripada di Italia?
Karena di Argentina mereka memainkanmu di tim senior saat usiamu 17-18 tahun, kamu berkembang lebih cepat. Berbeda di Italia, mereka mengandalkan pemain matang. Talenta muda kesulitan mendapat ruang lalu tidak berkembang. Ada Donnarumma dan...

Saat Anda bermain dengan pemain primavera Juve, apakah Anda perhatikan beberapa yang mungkin bisa bermain inti di klub Argentina?
Tentu saja, jika mereka di Boca atau River, mereka akan bermain di tim senior. Mereka memiliki kualitas dan fitur yang bisa membuat mereka melakoni debut. 

Bisakah Anda membayangkan memiliki karir seperti Del Piero atau Buffon?
Sebenarnya iya. Kisah mereka mempesona saya: 20 tahun dalam balutan jersey yang sama.
Hal itu tak hanya bergantung padaku, tapi pada klub juga, namun akan jadi sangat menyenangkan untuk memenangkan apa yang telah mereka menangkan selama tinggal di Juventus.

Apakah Anda berencana tetap memakai nomor 21 atau akan mengambil nomor 10 bila lowong?
Nomor 10 kini sudah diambil (oleh Pogba) dan saya harap demikian untuk waktu yang lama. Lalu jika nomor itu tersedia, saya akan sangat menyukainya. Walaupun saya juga sangat menyukai nomor 21 yang dipakai oleh Zidane dan Pirlo, nomor ini punya kisah penting.

Apa pendapat Anda soal apakah Paul bertahan atau tidak?
Saya tak memikirkannya. Itu urusan Paul.

Mengapa Anda menolak timnas Italia?
Sebenarnya Conte sendiri tidak memanggil saya, hal itu dilakukan melalui pihak ketiga, rasanya sulit, tapi saya merasa orang Argentina. Akan mengurangi rasa hormat pada timnas Italia jika memakai seragam Azzurri hanya demi panggilan ke timnas. Saya tahu bahwa kompetisi di timnas Argentina gila-gilaan, tapi saya merasa orang Argentina.

Apakah Anda mengharapkan Juve yang sangat hebat?
Saya menngharapkan klub yang terorganisir, tapi tidak seperti nyatanya ini, sejujurnya ini tak dapat dipercaya. Ada banyak sekali orang yang bekerja untuk membuat kami dalam kondisi terbaik. Orang-orang yang tidak kamu lihat di TV, yang berkontribusi pada kemenangan kami. 
Sebuah klub hebat, yang paling dicintai di Italia, dengan fans di mana saja yang sungguh jatuh cinta pada tim ini. Saya bangga atas perhatian mereka. 

Apa yang Anda rasakan saat memasuki Stadion Juventus?
Sebagai lawan, pastinya ketakutan. Saya mengatakannya karena saya pernah merasakannya. Saya terkejut, saat saya datang kemari untuk bermain bersama Palermo, sangat sulit: sangat sulit berkonsentrasi pada lingkungan seperti ini. Lalu dengan mengenakan seragam Juve hal itu jadi lebih mudah karena saya melihat di mata lawan kebingungan yang sama yang pernah saya alami bersama Palermo. Stadion menaruh banyak beban pada lawan, lalu kamu juga bermain melawan tim terkuat di Italia, hal itu juga tidak membantu. Italia dibagi atas 2: fans Juventus dan mereka yang membenci Juventus. Tapi itu normal, di Argentina sama halnya dengan Boca atau River.
Saya mendapat banyak tekelan tapi itu resiko permainan. Jika saya komplain ke wasit saya menerima kartu kuning, jadi saya terima tekel itu dan diam.

Artikel ini diambil dari wawancara di harian TuttoSport dan diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Tarek Khatib  sebelum diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh penulis.

No comments: