Pages

Saturday, April 23, 2016

Wawancara Buffon dengan CdS



Apakah Anda dari dulu selalu menjadi kiper?
Tidak, saya awalnya seorang gelandang dan bermain baik. Saya juga suka bermain sebagai seorang penyerang seperti halnya semua anak. Saya tidak bermain buruk, saya tangguh di lini tengah tapi seandainya saya meneruskan jalan itu saya ragu saya akan punya karir yang sama seperti sekarang menjadi seorang kiper.

Bagaimana Anda menjadi seorang kiper?
Selama Piala Dunia Italia 1990, saya jatuh cinta pada seorang pemain, dia bukan Maradona atau Lineker, tapi kiper Kamerun N'Kono. Ayah saya lalu mendorong saya untuk mencoba bermain sebagai kiper selama 1 tahun dan bila saya tidak suka boleh ganti kembali. Saya mencoba dan sejak itu saya selalu menjadi kiper.

Bagaimana Anda bisa sampai bergabung dengan Parma?
Saya masuk dalam daftar pendek dari salah seorang pemantau mereka untuk wilayah Tuscan. Pada saat itu saya telah menyelesaikan 2 uji coba bersama Bologna dan Milan. Keduanya berjalan baik dan klub sementara menyelesaikan detail dan saat itulah Parma menyelip masuk.
Setelah latihan pertama saya, pelatih kiper Parma, Fulgoni bilang kepada direktur olahraga bahwa mengontrak saya adalah sebuah kesalahan besar. Dia jelas tak mengerti sepakbola.

Bagaimana menjadi seorang kiper?
Menjadi kiper adalah pekerjaan tersulit di sepakbola. Kamu harus berani bermain di posisi di mana setiap kesalahan bisa menjadi kebobolan gol. Yang mana sangat berbeda dengan gagal mencetak gol bagi penyerang. Yang satu adalah sebuah realita negatif sedangkan yang lainnya adalah sebuah kemungkinan yang sesungguhnya.
Tapi sejujurnya bagi saya itulah yang paling menarik dan tantangan seru menjadi kiper. Saya akan mengatakannya: Saya bangga menjadi kiper.
Dalam laga penting, kamu berkonsentrasi penuh pada permainan bahkan saat tim kamu menyerang, bersiap untuk serangan balik tiba-tiba. Dalam laga yang kurang penting di mana kamu memimpin dengan baik, ketika bola jauh kamu berpikir tentang masalah hidup sehari-hari, dan hal-hal lainnya. Demikianlah sesungguhnya. Namun seorang kiper bagus tidak pernah terganggu saat kamu membutuhkannya.

Apa kualitas esensi dari seorang kiper?
Saya harus bilang yang terutama adalah menularkan rasa aman ke pemain lain, ke tim kamu. kamu harus melakukannya terlepas dari apa yang sedang kamu rasakan dalam dirimu. Kamu harus membiarkan yang lain tahu bahwa dalam penjagaanmu situasi aman terkendali.
Kiper yang tidak merasa aman akan menghasilkan tim yang tidak merasa aman.

Seberapa sulit bagi kiper untuk pulih setelah suatu kesalahan?
Perhatikan, di sanalah kamu melihat kualitas sejati dari seorang #1. Setelah laga atau bahkan dalam aksi kamu akan diliputi keraguan dan kebimbangan. Kesalahan dapat menuntun kamu ke lebih banyak kesalahan. Dan di sinilah datang peran rasa aman yang harus kamu tularkan. Bagi saya berada di tengah pusaran badai adalah sebuah stimulus.

Bagaimana reaksi Anda setelah membuat kesalahan?
Saya menjadi termotivasi untuk membuktikan kepada semua orang bahwa saya tergelincir namun tidak jatuh.

Apakah Anda takut akan kesalahan yang Anda buat?
Sebagai seorang bocah, iya, sangat. Itu seperti sebuah korslet dalam sistem yang berjalan baik. Membuat kesalahan kini makin memotivasi saya sebab saya langsung dihakimi: masanya sudah selesai, dia sudah menua, dll. Saya berusaha membuktikan mereka salah.
Juga selalu lebih mudah untuk mengingat kesalahan seorang kiper hebat, jika 10 tahun lalu saya ditoleransi membuat 5 kesalahan, kini saya ditoleransi lebih sedikit kesalahan. Mungkin terdengar seperti sebuah paradoks, tapi bagi seorang kiper, makin lama kamu bermain kamu menjadi makin baik sebab kamu belajar untuk tidak mentoleransi kesalahan apapun.

Apa kesalahan terbesar Anda?
Pada U-21 Italia vs Inggris.

Apa penyelamatan terbaik Anda?
Sundulan Inzaghi di Liga Champions atau penyelamatan saat lawan Paraguay.

Apa yang Anda katakan setelah laga vs Sassuolo?
Pidato yang saya katakan sederhana, karena kami semua berpikiran yang sama.
Jika kami tidak memenangkan Scudetto atau bahkan lebih buruk: melanjutkan tren buruk itu, maka semua orang akan menunjuk pada alasan yang sama. Mereka mengatakan itu karena pemain tertentu hengkang atau tidak ada motivasi dan lain-lain. Jadi kami akan yakin dan setuju bahwa sebuah kebangkitan adalah mustahil. Saat itu kami melihat klasemen dan berkata kami perlu 25-26 kemenangan, kami melakukannya tahun lalu jadi kami kemudian memulai perjalanan indah ini.

Ketika Juve terdegradasi, Anda bisa saja pindah ke Real Madrid atau Barcelona tapi Anda memutuskan untuk bertahan di Juve, mengapa?
Iya, tim-tim top mengingingkan saya tapi saya memutuskan bertahan di Juve pertama-tama karena rasa terima kasih, sebuah nilai yang perlu untuk muncul kembali di sepakbola saat ini.
Lalu saya ingin menunjukkan bahwa nilai sepakbola yang saya yakini itu tak boleh cuma dikatakan tapi juga perlu untuk diamalkan.

Apa harapan Anda pada presiden FIFA, Infantino?
Saya berharap dia memulihkan kredibilitas orang-orang yang bekerja di sepakbola, pada semua level. Kita lihat saja, tapi saya percaya.

Bagaimana dengan kiper muda Italia?
Ada Donnaruma, pemain muda Juve: Audero, pemain Udinese: Meret. Generasi sebelumnya: Sportiello, Perin, Consigli, Mirante.

Bagaimana pendapat Anda soal situasi Totti?
Seperti pendapat orang lain yakni dia unik. Sebuah kisah seperti miliknya tak dapat ditulis lagi dan saya juga berpikir bahwa Roma adalah prioritas dan Spaletti bekerja untuk memastikannya.

Bagaimana dengan masa depan Anda?
Saya ingin bermain lagi selama 2 tahun pada level yang sama yang saya mainkan sekarang dan saya ingin bermain di Piala Dunia ke-6 saya.

Siapa penyerang yang paling menyusahkan Anda?
Bobo Vieri di masa jayanya dan Ronaldo sang fenomena. Mereka berdua merenggut tidur saya.

Apa yang paling akan Anda rindukan dari sepakbola?
Atmosfir ruang ganti. Ikatan yang terjalin lama terbentuk di sana.

Petikan wawancara ini diambil dari harian Corriere dello Sport yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Tharek Khatib lalu diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh penulis.

 

No comments: