A piece on Gigi Buffon. 93 minutes away from history. The Ballon d’Or + longevity #Juventus https://t.co/sLzI4HU5dn pic.twitter.com/1oUtMFAuMl— James Horncastle (@JamesHorncastle) March 11, 2016
Gigi Buffon bahkan tidak masuk daftar 59 pemain untuk Ballon d'Or. Suatu kekeliruan yang memprovokasi kecaman di Italia. Bila mimpi Si Nyonya Tua memenangkan treble kelihatannya akan menjadi kenyataan setelah Morata menyamakan kedudukan di final Liga Champions melawan Barcelona pada Mei lalu, hal itu tidak terlepas dari peran besar sang kapten dan pemimpin yang menua bagaikan sebuah Tiganello (penulis: Tiganello adalah wine terkenal dari Italia)
“Saya percaya bahwa terlepas dari apa yang terjadi atau tidak terjadi di Berlin, ketika Anda melihat karir yang dimilikinya, dia pantas mendapatkan Ballon d'Or,” kata Max Allegri. Buffon, sekedar mengingatkan, tidak memiliki delusi yang sama seperti Franck Ribéry 2 tahun lalu. Dia tidak percaya bahwa dia yang seharusnya memenangkannya. Buffon tahu dia tidak akan pernah lebih dekat untuk menjadi kiper pertama yang memenangkan Ballon d'Or sejak Lev Yashin (saat itu setelah memenangkan Piala Dunia 2006, Ballon d'Or malah jatuh ke rekan setimnya Fabio Cannavaro).
Walau begitu, tidak masuk ke daftar saat, misalnya, David Ospina masuk, membuat kebingungan yang dapat dipahami. Dalam protesnya, pelatih Italia Antonio Conte dan Buffon, kaptennya, abstain memberikan suara mereka untuk menentukan 3 pemain terbaik di dunia. Mereka diperintahkan oleh FIGC. Protes pribadi Buffon -sengaja atau tidak- malah lebih kuat. Sejak Lionel Messi mengoleksi Ballon d'Or kelimanya pada acara di Zurich, Buffon tidak kebobolan satu gol pun di Serie A.
Kali terakhir dia harus memungut bola dari gawangnya di liga yaitu pada 10 Januari 2016. Sembilan clean sheet beruntun telah menempatkannya menyamai rekor klub yang dibuat pada 1973. Kemenangan 2-0 pekan lalu di Bergamo atas Atalanta membuat Buffon hampir menciptakan sejarah. Dia sudah tidak kebobolan dalam 836 menit. Ini menempatkannya di podium kiper dengan rentetan tak kebobolan terlama di sejarah Serie A. Dalam 1 sapuan dia melewati Davide Pinato (757), Ivan Pelizzolo (774) dan Mario da Pozzo (791)
Jangan khawatir jika Anda tidak pernah mendengar atau tidak bisa mengingatnya. Kehadiran mereka di daftar mengilustrasikan bagaimana, tak diperhatikannya kemampuan kiper, derajat keberuntungan juga terlibat. Yang dibutuhkan adalah salah satu rekanmu untuk membuat kesalahan atau sebuah umpan silang yang terlihat seperti sebuah tembakan mendarat di tiang jauh atau wasit mengesahkan sebuah gol yang seharusnya tidak pernah disahkan dan hal itu lenyap, habis, selesai.
Bila Buffon memang memecahkan rekor itu, dia tentunya akan mengakui peran pertahanan Juventus di dalamnya. Trio BBC Barzagli, Bonucci, Chiellini akan tercatat, setidaknya di domestik, sebagai satu dari yang terhebat sepanjang masa. Mereka telah menjadi sebuah unit selama 5 tahun dan dalam 63 penampilan bersama di Serie A mereka hanya kalah 4 kali, meraih 153 dari 189 poin yang tersedia. Musim ini Buffon telah menyelesaikan 4 laga tanpa menghadapi 1 pun tembakan ke arah gawang. Namun ini hanya 1 kali terjadi selama rentetan rekornya.
Yang memisahkan Buffon dari mencetak rekor terbaik baru di sejarah Serie A hanyalah 93 menit. Hal itu akan cukup membawanya melewati Dino Zoff (903), satu-satunya saingannya untuk gelar kiper Italia dan Juventus nomor satu, dan Sebastiano Rossi (929) pemegang rekor selama 22 tahun terakhir ini. Mengembalikan rekor ini ke Juventus akan menjadi kepuasan hebat bagi semua orang yang terlibat di klub.
Ada sebuah perdebatan juga mengenai pencapaian siapa yang lebih hebat. Rossi melakukannya saat standar Serie A lebih tinggi. Para penyerang lebih jago. Namun pertandingan sedikit lebih tertutup dan dia menerima proteksi tidak seperti yang lainnya. Rossi bermain di belakang pertahanan Milan yang diisi oleh Mauro Tassotti, Billy Costacurta, Paolo Maldini dan Franco Baresi yang tanpa diragukan merupakan yang terbaik yang pernah ada.
“Tim Milan tersebut memiliki 4 pemain hebat sepanjang masa dan seorang kiper bagus,” kenang Boban, anggota tim tersebut, pada minggu malam lalu. “Buffon adalah satu-satunya pemain hebat sepanjang masa di Juventus.”
Tim-tim juga lebih mahal di Serie A sekarang ini. Mereka bermain lebih terbuka. Jumlah gol per laga meningkat dan ada anarki dan kekacauan pada pertandingan yang tidak terjadi di masa lalu, yang mana akan berimbas baik pada Buffon bila dia mampu bertahan dan melewati Rossi.
Namun akan menjadi kesalahan, bila menganggap ini adalah akhir yang tak dapat dielakkan. Juventus bermain melawan Sassuolo pada Jumat malam. Ammazza grandi atau pembunuh raksasa, mereka adalah tim terakhir yang menjegal Si Nyonya Tua di Serie A. Milan adalah korban terakhir mereka di akhir pekan dan perlu diingat bahwa Juventus perlu mendekati laga ini dengan hati-hati. Bila kepala mereka tanpa sadar berada di bentrok leg kedua babak 16 besar Liga Champions melawan Bayern maka mereka dan peluang Buffon memecahkan rekor dapat berada dalam masalah.
Menang adalah yang terutama. Rekor kedua. Buffon selalu menempatkan tim di atas diri sendiri. Dia tidak akan terlalu memikirkannya kecuali hal itu bisa menyajikan tujuan yang lebih baik dan dalam kasus ini mungkin saja bisa.
Seseorang membayangkan hal itu mungkin memang membantu Allegri memfokuskan tim. Jangan kebobolan. Lakukan itu demi Gigi! Dari semua rekor yang dapat dipatahkan Buffon, mungkin tidak ada satupun yang lebih bermakna dari ini. Karena intinya ini soal ketahanan dan pada usia 38 bahkan di antara saingan hebat seperti Manuel Neuer dan David de Gea, dia masih mampu mempertahankan dirinya sendiri.
Daftar Ballon d'Or? FIFA bisa terus mengabaikan Buffon. Tapi sejarah tidak akan.
Artikel ini diterjemahkan dari tulisan James Horcastle di calciomercato.com
No comments:
Post a Comment