Pages

Sunday, May 21, 2017

Mandžukić Unik


Mario Mandžukić mempertemukan kualitas-kualitas kontradiktif yang membuatnya menjadi pemain Juventus paling bernilai secara taktis, tulis Andrea Tallarita.
Ketika penggemar baru sepakbola menanyai kami apa yang kami ingat dari Grande Juventus (atau apapun sebutan tak terelakkan yang akan jadi populer) 20 tahun dari sekarang, aku menduga mayoritas akan menyebutkan Paulo Dybala atau Leonardo Bonucci. Aku akan katakan bahwa aku mengingat Mario Mandžukić, sang raksasa Kroasia yang masuk ke dalam lapangan sepakbola seperti seorang Italia kelas buruh.

Pemain berusia 30 tahun ini bukanlah seorang bintang dalam artian apapun atas istilah tersebut. Sebuah porsi solid dari para penonton yang menyaksikan final Liga Champions pada 3 Juni mungkin akan menanyai orang yang duduk di sampingnya, siapa nama orang itu?

Dia tak bermain dengan cantik juga. Ada kilasan-kilasan kepiawaian dan back-heel janggal, namun dia tak memiliki sedikit dari keanggunan Dybala atau bahkan kekasaran dan keliaran Higuain yang tak dapat ditaklukkan. Dia bertarung merebut bola seperti halnya orang biasa bertarung memperebutkan tempat di bis yang penuh bersesakan, dengan bibir manyun dan banyak sikut menyikut.

Dan masih ada banyak nilai dalam permainannya yang tak dapat diukur dengan angka-angka atau diungkapkan dengan kata-kata. Bahkan tangan Beethoven pun tak akan pernah bisa memimpin simphoni kelima tanpa bahunya, dan Mandžukić, dengan segala keterbatasan analogi yang pantas, adalah bahu (kiri) yang mengangkat Si Nyonya Tua. Dia punya segalanya yang dimiliki seorang penyerang bagus – dan juga segalanya yang tak dimiliki para penyerang bagus.

Dengan kombinasi klasik dari insting pembunuh dan fisikalitas, si Kroasia tak pernah menyia-nyiakan ruang di dalam kotak penalti, dan dia mewakili pemain terbaik Juve di udara bersama Giorgio Chiellini seorang. Namun dia juga memiliki tipe stamina dan kecepatan yang merupakan tipikal dari penyerang dengan tubuh lebih pendek: sejak saat itu max Allegri memutuskan untuk menempatkan dia di sisi kiri, dia pun telah merajai sayap kiri seperti seorang bek sayap dari era 90an.


Kemampuan ini dengan tepat sekali mempertemukan kualitas-kualitas kontradiktif yang membuat Mandžukić amat unik. Pemain bertubuh besar tidak seharusnya sangat cepat, penyerang tak seharusnya menyediakan pertahanan intensif yang begitu rapi, dan yang paling penting, veteran berumur 30 tahun dalam olahraga ini tak seharusnya bermain dengan permainan lincah yang penuh energi seperti halnya sesorang yang baru diorbitkan dari sistem pembinaan pemain muda. Mandžukić melakukan semua ini, dan lebih lagi.

Setelah kemenangan melawan Genoa pada akhir April (yang mana Juve mencetak salah satu gol terbaiknya musim ini), La Gazzetta dello Sport mengklaim Mandžukić sendiri sebagai satu-satunya alasan Allegri mampu menurunkan formasi 4-2-3-1. Argumen ini bisa jadi bias konfirmasi, sebagaimana seorang pelatih kreatif tentunya bisa menemukan cara lain untuk menyusun formasi dengan stok pemain Juve. Tapi tak diragukan lagi Mandžukić membuat pekerjaan itu jauh lebih mudah.


Saat orang-orang berbicara tentang roda gigi elemental ini – yang dengan sangat baik cocok ke dalam mesin sepakbola bernama Juventus – mereka entah memuji kemampuannya atau kemampuan meramal sang pelatih yang mengetahui bagaimana cara menggunakannya. Faktanya, ini soal alkimia antara mereka berdua, yang satu dengan tak terelakkan dikembangkan oleh fors mayor (keadaan di luar perkiraan).

Allegri merupakan pelatih asal Italia, belajar dalam sepakbola Italia. Mandžukić adalah orang Kroasia, tapi dia bermain seperti seorang Azzurro: dia tak malu dengan kecanggungannya, mematikan kapanpun lawan lengah, dan secara patologis tak mampu menyerah.

Aku membayangkannya berada di meja bersama Gennaro Gattuso, Marco Materazzi dan Luca Toni, tertawa dan menyanyikan lagu-lagu sepakbola dengan suara parau, di tempat di mana para pemain bintang Argentina dan Brasil tak akan pernah diundang. Dan aku akan mengingatnya seperti itu, apapun yang terjadi di Cardiff.

No comments: