Pages

Tuesday, May 23, 2017

Kolom Buffon di La Stampa

Kemarin kapten Juventus, Gianluigi Buffon menulis sebuah kolom untuk harian La Stampa.

Kami juara. Lagi. Untuk yang keenam kalinya secara beruntun.
Sebuah rekor yang dibagi bersama Barza, Chiello, Leo, Stephan dan Claudio: para pemain tua di kelompok ini (biasanya aku tak mengatakan tua… kecuali Andrea, dia sungguh tua).
Dengan berlalunya bulan demi bulan, laga demi laga, kesuksesan ini, banyak yang sudah bilang soal kemenangan yang sudah diperkirakan, jalur mudah, sebuah liga gampang dan manfestasi superioritas. Aku tidak setuju.




Mereka yang tak pernah memenangkan apapun berpikir tentang membuat dangkal kerja keras dari mereka yang sukses. Untuk Scudetto keenam tiada hal yang sudah diharapkan, sudah diramalkan atau sudah diamankan.
Tentu saja kami adalah favorit, oleh karena apa yang telah kami bangun selama 5 musim terakhir.
Tapi kami memulainya dari nol, kami diragukan, kami bertarung dan kami menang. Tiada seorangpun yang memberikan kami apapun.
Setiap tim yang menghadapi kami memberikan segalanya, setiap orang menyoraki melawan kami. Hal tersebut normal, yang terkuat adalah selalu yang paling dibenci.
Meski begitu aku menyimpan antipati dan membiarkan yang lain mendengki akan kesuksesan klub ini, yang dari semua klub, telah berhasil meraihnya.

Kata pertama yang aku pikirkan setelah setiap kemenangan adalah besok. Aku bangga akan tropi-tropi yang telah aku menangkan, aku merasa seperti seorang pria dari waktuku, tapi itulah hal yang masih menantikanku yang mana menjagaku hidup dan dalam gerakan konstan.
Aku telah mendapat lebih dari yang pernah aku inginkan dari hidup, pastinya lebnih dari yang aku minta.
Di depan sebuah garis finis baru, di depan muka target baru yang tercapai, aku selalu memiliki kesadaran telah memberikan segalanya dan telah menerima -bila memungkinkan- bahkan lebih lagi.
Ini adalah latar belakang dari rasa bersyukur konstan dalam hidup yang memaksaku menjadi seorang optimis dan mendorongku untuk melampaui diriku sendiri, melampaui banyak kemenangan, melampaui batasan.
Aku punya 6 Scudetti beruntun, tapi juga 10 dalam karirku (termasuk 2 Scudetti yang dicabut dalam skandal Calciopoli).

Ya, 10. Aku tak malu untuk mengatakannya. Aku memenangkan semuanya, di dalam lapangan, bersama para juara yang wajah, kelelahan dan senyuman mereka masih terbayang saat aku menuliskan ini.
FIGC, Wikipedia atau Lega mengatakan aku punya 8. Aku tak akan mendiskusikan wasit, hakim atau hukum, tapi tak seorangpun bisa menyangkaliku hak untuk merasakan semuanya itu.

Cinta pertamaku adalah seorang gadis yang aku temui di SMA, tapi itu adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan. Namun yang penting bagiku adalah cinta. Pengakuan dalam hidup bukanlah segalanya.
Beberapa lagu Vasco atau sajak Neruda terasa milikku secara intim. Aku tak menulisnya sendiri, tapi hal itu relatif karena pada akhirnya sebagaimana yang ditulis Troisi dalam Il Postino, sajak bukan soal siapa yang menuliskannya, namun siapa yang terbantu olehnya.
Tak ada kontroversi. Tak ada keinginan untuk membuka bab yang tertutup. Hanya kebanggaan akan apa yang aku bangun, menangkan dan taklukkan dalam lapangan. Tak sendirian, selalu dalam sebuah tim!

Seuatu kebanggaan yang kemabli datang kepadaku adalah musim panas 2006. Sebuah musim panas yang panas dan penuh kegilaan, sebuah musim panas dengan hengkangnya para pemain yang dapat dimengerti dan eksodus yang tak dapat dihakimi.
Tapi juga sebuah musim panas dengan konfirmasi dan hasrat untuk mengubah sejarah. Bahkan faktanya, untuk menulis sejarah. Tak ada siapapun seperti kami. Tak ada siapapun sebelum kami.
Aku memikirkan tentang Pavel, Alex, David dan Camo… dan kemudian diriku sendiri.
Kami memutuskan untuk tinggal bersama untuk menghormati sebuah seragam, sebuah klub, sebuah basis fans. Kami kehilangan segalanya untuk meraih hal-hal yang tak bisa diukur dan tak bisa ditukar: respek, afeksi.
Menemukan nilai-nilai untuk sebuah grup dan sebuah tim, karena tanpa kami tak akan ada kemenangan, rekor dan penaklukan.
Aku tak ingin masuk ke dalam kamus kutipan, namun tanpa semua mereka yang bekerja keras di dalam dan di luar lapangan (mungkin di balik bayangan) untuk mengizinkanku melakukan yang terbaik, semuanya ini tak akan menjadi mungkin.
Dan yang paling menakjubkan dari kesemuanya ini adalah hal ini masih belum berakhir.

Diterjemahkan dari artikel berbahasa Italia di La Stampa

No comments: