Please stay, Max - @Adz77 warns #Juventus fans don’t appreciate Allegri’s importance, with #Arsenal & #Barca lurking https://t.co/M2ODXlFBE3 pic.twitter.com/TVZxFgUYiF— footballitalia (@footballitalia) March 13, 2017
Sementara kasak-kusuk Arsenal atau Barcelona berlanjut, Adam Digby mengingatkan bahwa Juventini tidak menghargai pentingnya seorang Max Allegri.
Untuk seorang Tuskan yang karismatik dan menawan, Max Allegri tentunya sudah membuktikan dirinya sebagai figur yang menentukan.
Bahkan sekarang, setelah lebih dari 3 tahun sejak penunjukannya, Milanisti sulit menerima warisannya yang masih bertahan dan akuntabilitas masa jabatannya di Rossoneri. Sebagaimana dalam kejatuhan mereka ke mediokritas adalah kesalahannya, seimbang dengan begitu dalamnya dia dikacaukan oleh masalah gawat di internal klub: kegagalan menggantikan para pemain yang menua disalahkan pada 1 orang yang hanya berwenang atas masalah di dalam lapangan.
Ya, dia melakukan banyak kesalahan, dan masanya di Turin telah menunjukkan bahwa dia telah belajar dari hal-hal tersebut. Kini lebih mawas taktik selama pertandingan dan amat berkembang dalam pergantian pemain, dia masih membelah penilaian dari basis fans Juventus dalam hal seberapa banyak kredit yang layak dia dapatkan untuk kesuksesan yang telah dinikmati Si Nyonya Tua selama dalam pengawasannya.
Setiap kali Daniele Rugani atau Marko Pjaca dikeluarkan dari tim inti, Allegri direpotkan oleh persepsi bahwa dia enggan memainkan pemain muda, seolah-olah keberhasilannya mengembangkan Mattia De Sciglio, Alvaro Morata dan Paulo Dybala terjadi begitu saja bukan memang karenanya. Bahkan ketika keputusan yang begitu nyata seperti kembali ke formasi 4 bek pada 2014/15 atau 4-2-3-1 pada Januari ini terbayar secara spektakuler, pemilihan taktik dan timnya kembali diragukan oleh para "pengamat ahli" yang percaya kesuksesan mereka di FIFA 17 atau Football Manager memberikan mereka suatu tingkatan wawasan yang melebihi si pemenang 3 Scudetti.
Kepada fans macam ini, saya tawarkan 6 kata nasihat, satu untuk setiap titel liga yang tampaknya akan dimenangkan oleh tim pemecah rekor ini pada akhir musim ini: hati-hati dengan apa yang Anda inginkan.
Sederhananya, Juventus amat beruntung mendaratkan Allegri pada Juli 2014 lalu. Antonio Conte pergi musim panas itu, digantikan hanya 24 jam kemudian oleh si mantan gelandang Pescara, dan mereka terbukti menjadi pasangan yang sempurna. Di mana bos Chelsea kini, gagal menyeimbangkan tuntutan multi kompetisi, suksesornya menunjukkan ketrampilan luar biasa, di mana dia dengan cekatan membawa tim ke Juara Dobel (Liga & Piala) pertama dalam 2 dekade dan mengakhiri penantian 12 tahun akan final Liga Champions.
Walaupun ada perombakan pemain musim berikutnya, dia sekali lagi menyapu bersih kompetisi domestik Juve, namun terhenti di Eropa setelah sempat memberikan kengerian pada Bayern Munchen di babak 16 besar Liga Champions. Tahun ini – dengan arus talenta lainnya – Si Hitam Putih terlihat banyak berkembang, belum lagi menahan rival mereka di kandang dan ingin maju sejauh mungkin di Liga Champions sekali lagi.
Rumor perselisihan dalam skuad datang di depan ketika tensi dengan Stephan Lichtsteiner, Leonardo Bonucci dan Dybala semuanya mendidih di depan mata, tapi performa tim menafikan narasi tersebut secara komprehensif. Sebuah kelompok pemain dengan sikap yang sudah banyak diketahui orang dilakukan Juventus selama ini tidak akan melawan pelatih mereka dengan sangat kuat. Allegri membalikkan beberapa laga yang tampaknya akan kalah, dengan bantuan dari sebuah unit kohesif yang amat jelas percaya pada diri mereka sendiri dan pelatih di pinggir lapangan.
Kasak-kusuk soal hengkangnya dia di musim panas sudah berlanjut selama berbulan-bulan, dengan Arsenal, Paris Saint-Germain atau bahkan Barcelona disebut-sebut sebagai kemungkinan tujuan. Luciano Spalletti dan Paulo Sousa telah disebut sebagai calon pengganti, dua nama yang seharusnya menakutkan Juventini, masing-masing kelihatannya makin dan makin tercela sebagaimana musim mendekati akhir. Roma kelihatan terkuras dan putus asa tanpa pendekatan alternatif ketika Rencana A gagal, sementara Fiorentina tampaknya kehilangan kendali dalam tiap laga kecuali dalam kemenangan mereka atas Juventus pada Januari lalu.
Dengan Scudetto bersejarah keenam tampaknya makin pasti, Allegri mudah-mudahan akan memutuskan untuk tinggal dan mencoba meraih titel liga keempatnya bersama Juve. Menggantikannya kelihatannya makin sulit dibandingkan mencari seseorang untuk melangkah masuk setelah hengkang gegabahnya Conte, sementara kegagalan klub mencicipi kesuksesan di Eropa dalam 21 tahun tentunya membuat gelar Liga Champions sebagai bidikan pamungkasnya.
Siapa tahu, hal itu mungkin tambah membuatnya dikagumi seluruh Juventini.
Artikel ini diterjemahkan dari tulisan Adam Digby di football-italia.net
Untuk seorang Tuskan yang karismatik dan menawan, Max Allegri tentunya sudah membuktikan dirinya sebagai figur yang menentukan.
Bahkan sekarang, setelah lebih dari 3 tahun sejak penunjukannya, Milanisti sulit menerima warisannya yang masih bertahan dan akuntabilitas masa jabatannya di Rossoneri. Sebagaimana dalam kejatuhan mereka ke mediokritas adalah kesalahannya, seimbang dengan begitu dalamnya dia dikacaukan oleh masalah gawat di internal klub: kegagalan menggantikan para pemain yang menua disalahkan pada 1 orang yang hanya berwenang atas masalah di dalam lapangan.
Ya, dia melakukan banyak kesalahan, dan masanya di Turin telah menunjukkan bahwa dia telah belajar dari hal-hal tersebut. Kini lebih mawas taktik selama pertandingan dan amat berkembang dalam pergantian pemain, dia masih membelah penilaian dari basis fans Juventus dalam hal seberapa banyak kredit yang layak dia dapatkan untuk kesuksesan yang telah dinikmati Si Nyonya Tua selama dalam pengawasannya.
Setiap kali Daniele Rugani atau Marko Pjaca dikeluarkan dari tim inti, Allegri direpotkan oleh persepsi bahwa dia enggan memainkan pemain muda, seolah-olah keberhasilannya mengembangkan Mattia De Sciglio, Alvaro Morata dan Paulo Dybala terjadi begitu saja bukan memang karenanya. Bahkan ketika keputusan yang begitu nyata seperti kembali ke formasi 4 bek pada 2014/15 atau 4-2-3-1 pada Januari ini terbayar secara spektakuler, pemilihan taktik dan timnya kembali diragukan oleh para "pengamat ahli" yang percaya kesuksesan mereka di FIFA 17 atau Football Manager memberikan mereka suatu tingkatan wawasan yang melebihi si pemenang 3 Scudetti.
Kepada fans macam ini, saya tawarkan 6 kata nasihat, satu untuk setiap titel liga yang tampaknya akan dimenangkan oleh tim pemecah rekor ini pada akhir musim ini: hati-hati dengan apa yang Anda inginkan.
Sederhananya, Juventus amat beruntung mendaratkan Allegri pada Juli 2014 lalu. Antonio Conte pergi musim panas itu, digantikan hanya 24 jam kemudian oleh si mantan gelandang Pescara, dan mereka terbukti menjadi pasangan yang sempurna. Di mana bos Chelsea kini, gagal menyeimbangkan tuntutan multi kompetisi, suksesornya menunjukkan ketrampilan luar biasa, di mana dia dengan cekatan membawa tim ke Juara Dobel (Liga & Piala) pertama dalam 2 dekade dan mengakhiri penantian 12 tahun akan final Liga Champions.
Walaupun ada perombakan pemain musim berikutnya, dia sekali lagi menyapu bersih kompetisi domestik Juve, namun terhenti di Eropa setelah sempat memberikan kengerian pada Bayern Munchen di babak 16 besar Liga Champions. Tahun ini – dengan arus talenta lainnya – Si Hitam Putih terlihat banyak berkembang, belum lagi menahan rival mereka di kandang dan ingin maju sejauh mungkin di Liga Champions sekali lagi.
Rumor perselisihan dalam skuad datang di depan ketika tensi dengan Stephan Lichtsteiner, Leonardo Bonucci dan Dybala semuanya mendidih di depan mata, tapi performa tim menafikan narasi tersebut secara komprehensif. Sebuah kelompok pemain dengan sikap yang sudah banyak diketahui orang dilakukan Juventus selama ini tidak akan melawan pelatih mereka dengan sangat kuat. Allegri membalikkan beberapa laga yang tampaknya akan kalah, dengan bantuan dari sebuah unit kohesif yang amat jelas percaya pada diri mereka sendiri dan pelatih di pinggir lapangan.
Kasak-kusuk soal hengkangnya dia di musim panas sudah berlanjut selama berbulan-bulan, dengan Arsenal, Paris Saint-Germain atau bahkan Barcelona disebut-sebut sebagai kemungkinan tujuan. Luciano Spalletti dan Paulo Sousa telah disebut sebagai calon pengganti, dua nama yang seharusnya menakutkan Juventini, masing-masing kelihatannya makin dan makin tercela sebagaimana musim mendekati akhir. Roma kelihatan terkuras dan putus asa tanpa pendekatan alternatif ketika Rencana A gagal, sementara Fiorentina tampaknya kehilangan kendali dalam tiap laga kecuali dalam kemenangan mereka atas Juventus pada Januari lalu.
Dengan Scudetto bersejarah keenam tampaknya makin pasti, Allegri mudah-mudahan akan memutuskan untuk tinggal dan mencoba meraih titel liga keempatnya bersama Juve. Menggantikannya kelihatannya makin sulit dibandingkan mencari seseorang untuk melangkah masuk setelah hengkang gegabahnya Conte, sementara kegagalan klub mencicipi kesuksesan di Eropa dalam 21 tahun tentunya membuat gelar Liga Champions sebagai bidikan pamungkasnya.
Siapa tahu, hal itu mungkin tambah membuatnya dikagumi seluruh Juventini.
Artikel ini diterjemahkan dari tulisan Adam Digby di football-italia.net
No comments:
Post a Comment