Pages

Thursday, March 23, 2017

Juventus & Tuduhan FIGC Terkait Mafia

Komentar Pengacara Juve Akan Tuduhan Komisi Anti-Mafia

Pada 15 Maret 2017, Rosy Bindi, presiden Komisi Anti-Mafia mengkonfirmasi bahwa Agnelli akan hadir memenuhi panggilan komisi setelah berbicara dengan Luigi Chiappero, pengacara Juventus.

“Tak pernah ada rekaman penyadapan atau bukti lain terkait presiden Juventus, tiada referensi pada sebuah rapat tak ada,” tandas Luigi Chiappero.

“Ada 2 panggilan telepon antara presiden dan manajer keamanan, Alessandro D'Angelo, dan 6 panggilan telepon yang mana orang lain berbicara soal presiden dalam hal yang tak berhubungan dengan tiket.” 

“Bagaimanapun, kami sepenuhnya akan memenuhi panggilan Anda dan dengan senang akan menjelaskan segalanya dengan datang ke sini untuk memberikan keterangan. 

“Adalah perlu untuk membedakan antara apa yang terjadi hingga Juli 2016 dan setelahnya, ketika karyawan Juve mengambil peran sebagai saksi.”

Kasusnya beredar di sekitar Rocco Dominello, yang kini sedang disidang atas keterkaitan dengan Ndrangheta (Mafia Calabria), yang mengklaim bahwa manajer keamanan kami Alessandro D'Angelo berurusan dengan alokasi tiket dan komunikasi dengan fans.” 

“Pada titik tertentu Rocco Dominello datang menghubungi D'Angelo, orang yang hingga kini masih tak punya catatan kriminal.

Tak ada undangan pernikahan, pembaptisan atau lainnya. Alessandro D'Angelo, manajer keamanan Juventus, cuma berbicara kepada seseorang yang biasa berada di Curva dan memiliki catatan kriminal bersih.”

D'Angelo tak ingat dia berbicara dengan siapapun selain seorang perwakilan ultras.”

Presiden Komisi Anti-Mafia Bindi menjawab bahwa Kami khawatir Anda menyangkal keberadaan fenomena ini: apakah Anda terus memberikan tiket kepada Ultras?”

Kini kami perlu menemukan instrumen tepat untuk membuat semua orang di olahraga sadar akan resikonya dan oleh karenanya bisa melindungi seluruh sistem sepakbola profesional, termasuk klub-klub yang melantai di bursa saham, dari resiko aktifitas ilegal.”

“Semuanya ini menandakan kekuatan mafia sedang dianggap enteng. 

Klub Italia selalu punya hubungan kuat dengan kelompok Ultras dan tak semua yang berada di Curva punya catatan kriminal bersih.

Tak seperti tim lain di Eropa, kelompok Ultras terorganisir cenderung punya sejumlah akses mengejutkan ke para pemain, pimpinan klub dan terkadang menerima tiket.

Beberapa kelompok juga melisensi hak barang dagangan dari klub.


Agnelli Kecam Tuduhan Keterkaitan dengan Mafia

Agnelli dan pengacara Juventus telah berulang kali menyatakan bahwa mereka hanya pernah berkomunikasi dengan 2 orang ini secara tak langsung sebagai perwakilan Ultras dan tak ada hubungan dekat.

Ada sebuah akun Twitter palsu yang mengaku sebagai Agnelli mengumumkan akan mengundurkan diri sebagai presiden sesegera mungkin.

“Setengah jam yang lalu saya diberitahukan bahwa saya telah dipanggil ke Komisi Disiplin, bersama Francesco Calvo, yang saat itu adalah direktur kami, Alessandro D'Angelo dan Stefano Merulla.

Klub ini, karyawannya dan saya sendiri tak punya alasan untuk takut atau berbohong, yang karenanya saya di sini di hadapan Anda hari ini,” kata Agnelli di konferensi pers.

Dalam beberapa bulan ini, anggota staf Juventus yang sangat saya percayai bersaksi kepada Komisi Anti-Mafia. Kesaksiannya dianalisa secara njelimet dalam cara yang invasif, termasuk dengan penyadapan, dan tak pernah berubah. Ada saksi mata dan mereka tetap saksi mata sampai akhir investigasi.”

Hari ini FIGC, bukannya membatasi dirinya pada menggugat kejanggalan penjualan tiket yang mungkin terjadi, mereka malah memanggil saya dan karyawan kami terkait tuduhan kolaborasi dengan organisasi kriminal.”

Tak bisa diterima dan lebih ke prasangka pada Juventus dan pembacaan situasi yang tak akurat yang tak ada logika di dalamnya. Saya ingin mengingatkan Anda bahwa pencegahan masalah ketertiban umum dilakukan dalam kolaborasi ketat dengan seluruh otoritas kepolisian.”

Saya akan membela diri saya, saya akan membela kolaborator saya dan saya akan membela nama baik Juventus, yang sudah dilempari lumpur dalam suatu percobaan ganjil dari keputusan Pengadilan Olahraga di masa yang lampau.”

Saya mengundang Anda para reporter sejak hari ini untuk melihat secara dalam ke dalam tema suatu pemeriksaan resmi yang anehnya nama-nama mereka yang dituduh terkait mafia menghilang digantikan dalam tajuk berita oleh SAKSI-SAKSI yang kejahatannya cuma bekerja untuk sebuah klub yang sangat terkenal yang namanya dibicarakan semua orang.” 

Saya juga mengundang Anda semua menjadi saksi dan bukan alat untuk membuat kesimpulan prasangka yang dalam pandangan saya akan jadi salah dan melawan segala yang dipertahankan sistem peradilan.” 

Saya tak pernah bertemu bos Mafia manapun. Saya ingin mengingatkan semua orang bahwa saat itu para Ultras ini memang dan ada yang hingga kini masih bebas dari catatan kriminal apapun.”

Saya sudah bertemu dengan Ultras dari berbagai kelompok berbeda, apakah dari Club DoC, Members atau Ultras lain, dan selalu di saat hari terang. Hal ini normal bagi seorang presiden sebuah klub sepakbola.”

“Bila beberapa figur punya posisi baru kini di mata sistem peradilan, mereka tidak memilikinya saat itu. Saya akan menjelaskan ini kepada Pengadilan Olahraga dan bukan kepada Anda.” 

“Apakah beberapa anggota Ultras memang bukan orang suci? Saya setuju, namun mereka punya catatan kriminal bersih dan tak ada larangan menyaksikan pertandingan.”

Seperti semua klub, Juventus berkolaborasi dengan pemerintah, kami tak bisa menggantikan pekerjaan polisi. Kami baru saja disebut sebagai contoh klub berbudi luhur saat berhubungan dengan komunikasi dengan Ultras.”

Saya pikir ini tugas saya untuk datang ke sini dan memberitahu Anda situasinya secara langsung, tanpa perantara.” 

Beberapa dari Anda juga berteori kemungkinan perubahan kepemimpinan di Juventus. Maafkan saya mengecewakan Anda, namun jajaran direktur yang terdiri dari saya sendiri, Wakil Presiden Pavel Nedved, jenderal manajer Giuseppe Marotta dan direktur olahraga Fabio Paratici, berniat  menjaga Juventus tetap berkembang untuk waktu yang lama.” 


Tanggapan FIGC

Penuntut FIGC mengeluarkan alasan mereka atas tuduhan dan kelihatannya relatif kecil bahwa klub Serie A lainnya tidak melakukan hal yang sama.”

Dalam periode dari musim 2011-12 hingga setidaknya 2015-16, Agnelli dengan niat jelas menjaga ketertiban umum pada sektor-sektor di Stadion yang diduduki oleh Ultras dan menghindari denda atau sanksi potensial, dia tidak mencegah para direktur, pemain dan karyawan Juventus memiliki hubungan yang konstan dan awet dengan yang disebut ‘kelompok Ultras’, yang mana termasuk anggota organisasi kriminal, mensahkan penjualan tiket dan tiket terusan melebihi jumlah yang diizinkan.”

“Tiket-tiket ini juga diserahkan tanpa penunjukan tanda pengenal, oleh karenanya melanggar aturan keamanan & keselamatan publik dan seperti diketahui menguntungkan fenomena calo tiket.”

“Dia secara pribadi ambil bagian dalam beberapa rapat dengan anggota organisasi kriminal dan Ultras, membiarkan mereka dalam laga Juventus-Torino pada Februari 2014 untuk membawa petasan dan spanduk yang dilarang, semuanya bertujuan untuk meredakan dan mendapatkan belas kasih dari Ultras.”

Bila ini adalah tuduhannya, maka satu-satunya elemen yang membedakan Juventus dan Agnelli dari klub Serie A lainnya adalah kehadiran Ultras yang terkait pada organisasi kriminal, namun sebagaimana orang-orang ini dulunya punya atau sampai kini masih memiliki catatan kriminal bersih, tak mungkin untuk mengetahuinya pada saat itu.

Semua klub Serie A memiliki hubungan dekat dengan Ultras dan memberikan mereka tiket, sementara walaupun aturan melarang membawa petasan dan bom asap ke dalam stadion, hal-hal tersebut tetap terlihat dalam setiap pertandingan.


Rekaman Sadapan Telepon Juventus Bocor

The Hufftington Post terbitkan apa yang diklaimnya sebagai elemen investigasi yang tak dirilis, yang mana penuntut FIGC Giuseppe Pecoraro menyatakan "Agnelli tak hanya sadar akan rapor struktural dan bantuan yang diberikan pada kelompok fans terorganisir yang memiliki asosiasi dengan kriminal, tapi juga mengizinkan tindakan tersebut."

The Hufftington Post juga menerbitkan apa yang diklaimnya sebagai ekstrak yang tak dirilis dari 2 rekaman sadapan pembicaraan telepon yang dilakukan presiden Agnelli dengan manajer keamanan Juventus Alessandro D'Angelo.

Pada 2016 dia mengkonfirmasi bahwa dia telah bertemu "mereka", tapi hal besarnya, bila terkonfirmasi, adalah bahwa pada Maret 2014 Agnelli mengatakan ini tentang pemimpin Ultras Loris Granici: “Masalahnya ini: dia pernah membunuh orang.

D'Angelo membalas: “Dia mengirim orang untuk membunuh.

Hal ini akan berarti Agnelli dan D'Angelo sadar dan mengetahui bahwa mereka berurusan dengan orang yang terlibat dalam organisasi kriminal. 

Dalam percakapan lain, D'Angelo memberitahu kepala bagian fan Alberto Pairetto bahwa dia "takut" terlibat dalam penyidikan kriminal, karena semua orang tahu asal keluarga Rocco Dominello.

D'Angelo juga katakan dalam rekaman sadapan lain bahwa “Saya berbicara pada Rocco di telepon, dia bilang padaku dia mengirim banyak SMS kepada pelatih (Antonio Conte).

Luigi Chiappero, pengacara Agnelli mendesak Komisi Anti-Mafia dan FIGC untuk merilis semua informasi terkait, karena yakin mereka tak menyembunyikan apapun dan menyambut kesempatan untuk menjelaskan sisi cerita mereka.

Artkel ini diterjemahkan dari artikel berbahasa Inggris di football-italia dan akan diperbarui bila ada artikel lanjutan dengan tema yang sama di situs tersebut.

No comments: