Pages

Monday, January 4, 2016

Wawancara Mandžukić dengan Sportske Novosti


Wawancara berikut pertama kali muncul di sini dan direproduksi penuh:
http://themandzukic.tumblr.com/ 


Musim panas ini, setelah hanya setahun di Madrid, dia pindah klub, kota dan negara. Apa yang dilakukannya musim panas lalu, saat dia pindah dari Bayern ke runner-up Eropa – Atlético, dia mengulanginya tahun ini saat dia kembali dikontrak oleh runner-up Eropa – Juventus. Mario Mandžukić akan mendapat beberapa kesulitan untuk mempersempit banyaknya peristiwa yang terjadi selama 3 tahun terakhir jika dia memutuskan untuk menulis otobiografi. Dia pindah dari kubu terbaik Bayern yang pernah ada ke Atlético yang sangat bagus, dan sekarang dia berada di klub pemegang rekor Juventus. Dia berganti banyak pelatih juga: Heynckes, Guardiola, Simeone, Allegri. Dia mencetak banyak gol, dan memenangkan banyak tropi. Dan tentu ada beberapa krisis dalam karirnya: permainan buruk, cedera, dan hubungan yang tidak terlalu bagus dengan pelatih terkenal.

Sejak dia datang ke Turin, di klub yang sudah menginginkannya dalam lini mereka 3,5 tahun lalu, di tanah yang telah lama dia tunjuk sebagai salah satu tujuan untuk sepakbola dan hidup pada umumnya, Mandžukić tidak berbicara kepada pers. Dalam kasusnya, itu adalah perilaku khas. Anda bisa bilang bahwa dia tidak menyukai pers, namun lebih nyata mengatakan bahwa dia suka terisolasi. Dia memiliki dunianya sendiri, dan dia tidak mengizinkan siapapun menyusup ke dalam dunia itu. "Kehidupan profesionalnya" sangat terlihat bagi orang lain. Dia tidak berpikir bahwa dia perlu untuk menjelaskan sesuatu pada seseorang bahwa hal itu terlihat.

Musim panas ini dia memberitahu kami bahwa kami bisa berbicara dengannya pada akhir tahun, dan lalu dia akan melihat kembali dan mengatakan sesuatu tentang seluruh tahun. Kami mendapatkan kesan bahwa itu adalah cara sopannya untuk menolak sebuah wawancara, namun sejak dia pergi berlibur, pada 20 Desember, kami mulai mengingatkannya tentang kesepakatan itu.
Saya ucapkan selamat liburan untuk semua orang! Dan mengenai wawancara itu, mengapa kamu sangat memaksa?

Kami harus. Orang-orang tertarik tentang perasaan Anda, khususnya sejak Anda telah mengakhiri setengah musim dengan gaya yang hebat, di mana sebulan lalu terlihat dramatis, baik bagi Juve dan bagi Anda. Anda bahkan belum bicara sejak Anda berganti klub. Kami perhatikan bahwa Anda tidak berbicara juga dengan kolega Italia Anda.
Tidak. Saya tidak begitu menyukainya, saya menyukai kedamaian saya sendiri. Saya tidak marah kepada jurnalis, saya tidak menyalahkan mereka, walau mereka banyak menambah bumbu di tulisan, tapi saya mengerti bahwa mereka harus menulis sesuatu. Saya pikir bahwa hal terpenting adalah apa yang saya tunjukkan di dalam lapangan, performa saya, dan lalu semua orang dapat membuat penilaiannya sendiri.

Mari bicara tentang performa Anda kalau begitu. Anda mengakhiri paruh musim di Juventus dengan 18 laga, 9 gol dan 1 umpan gol. Anda rata-rata bermain 66,3 menit per laga. Ini adalah standar Anda. Apa yang terjadi pada awal ketika krisis mengguncang Juve karena hasil buruk dan mengguncang Anda karena performa redup?
Saya mesti bilang kalau Juve memulai sangat baik, kami memenangkan Piala Super Italia, saya mencetak gol atas kemenangan melawan Lazio, segalanya terlihat begitu menjanjikan. Namun pada awal liga, kami masuk ke dalam performa buruk dengan 2 kekalahan dan 1 kali imbang, dan, selaras dengan reputasi Juve tensi dengan segera memuncak. Semua hal buruk terjadi bersamaan bagi tim, dan saya secara pribadi. Tidak hanya saya tidak bagus di atas lapangan, cedera mulai menyerang saya, saya mendapat sebuah infeksi yang mengganggu saya untuk waktu yang lama dan melemahkan.
Kadang saya terjaga sepanjang malam dan berpikir tentang apa yang sedang terjadi padaku, seperti saya benar-benar terhalangi. Saya sangat putus asa karena saya tidak dapat melihat jalan keluar dari situasi yang tidak pernah terjadi dalam karirku.

Anda sudah berumur 29 tahun jadi wajar bahwa cedera dapat mendera Anda, khususnya karena Anda dalam 1 tahun berganti 3 klub, 3 kota dan negara, 3 metodologi kerja. Mengapa Anda tidak ingin bicara apapun ke publik?
Tidak ada dari hal tersebut yang akan menolong, kamu akan bilang bahwa saya sedang mencari sebuah alibi. Dalam laga tak beruntung melawan Udinese, di awal laga saya menghantam sebuah sudut papan iklan di area tulang tumit. Mereka menjahit lukaku, namun kemudian luka itu mulai menjadi sangat sakit dan berdenyut sepanjang malam. Ada sebuah infeksi, saya harus memakan sekumpulan antibiotik dan kesakitan berlanjut untuk hampir 2 bulan. Di latihan, pertandingan, setiap sentuhan adalah neraka. Saya tidak mau mengeluh, saya buka tipe seperti itu, bahkan walau itu jelas bahwa itu bukan saya. Sistem imun saya melemah, saya merasa lemah, tak bertenaga. Lalu saya mendapat cedera hamstring, berhenti lagi, dan tambahan beban kerja normal. Mengerikan...

Semuanya itu kelihatan sangat tak nyata bagi Anda, karena hingga musim semi ini Anda seperti sebuah tank, kebal pada cedera, dan pada tantangan apapun yang akan menjadi suatu rintangan untuk persiapan yang baik dan pertarungan tanpa syarat. Sejak cedera tumit pada laga melawan Bayer di Liga Champions musim semi ini, kelihatannya hal-hal menjadi cukup buruk sebagai kompensasi atas segala tahun-tahun sebelumnya?
Saya tidak tahu harus bilang apa. Di Atlético saya berada dalam standar performa saya hingga saya mendapat cedera kaki dan mulai menderita kesakitan hebat. Saya tidak ingin untuk berhenti, saya tidak ingin bantuan apapun, saya memaksa diri sendiri dan jelasnya saya salah. Jadi pastinya saya tidak dapat kembali ke bentuk permainan dan pulih kembali.

Bisakah kami membawa kembali cerita Anda meninggalkan Atlético?
Saya memiliki waktu yang hebat di Madrid. Semuanya baik bagi saya: klub, pelatih, kota, hidup, liga. Cedera itu adalah faktor kunci yang mengganggu saya, karena saya tidak lagi sama ketika saya tidak 100% siap bertarung.
Koran-koran menulis banyak hal – bahwa saya memiliki hubungan tidak harmonis dengan pelatih, namun semua itu bohong. Simeone selalu adil pada saya, dia mendukung dan menyemangati saya, dia selalu menekankan seberapa pentingnya saya bagi tim. Saya memiliki hubungan yang baik sekali dengan rekan-rekan setim. Tapi saat hal menjadi salah, sulit untuk memutus garis itu.

Lalu mengapa ada perpisahan? Kapan Anda merasa bahwa Anda mungkin terlalu dini meninggalkan Madrid, di mana Anda membeli rumah sebagai suatu tanda rencana jangka panjang untuk menetap?
Tidak ada seorangpun yang bilang ke saya mereka ingin saya pergi, sebenarnya mereka ingin saya untuk tinggal. Namun ketika sebuah cerita tentang semua tuduhan hubungan buruk dengan pelatih tersebar, ada beberapa klub tertarik untuk membeli saya.

Klub mana saja?
Tidak masuk akal untuk menyebut nama sekarang, saya hanya bisa cerita tentang Juventus.

Dan?
Tidak ada yang spesial, saya seorang pria yang menyukai tantangan baru dan sulit, tapi ide saya benar-benar tinggal dalam jangka panjang di Madrid. Namun dalam periode dan atmosfir aneh tersebut, dengan tawaran dari klub-klub lain, sedikit demi sedikit, dalam diri saya mendewasakan pandangan bahwa mungkin yang terbaik bagi saya dan bagi Atlético untuk menimbang-nimbang, contohnya, sebuah ketertarikan yang sangat layak dari Juventus yang hebat.

Kami ingat wawancara dengan La Gazzetta dello Sport, sebelum laga Bayern Munchen vs Juventus, 2 tahun lalu, saat Anda berkata bahwa Gigi Buffon adalah idola Anda sejak kecil, bahwa Anda suka sepakbola dan gaya hidup Italia, bahwa Juventus adalah salah satu klub favorit Anda waktu kecil yang mana memelihara mimpi sepakbola?
Benar. Saya memiliki kontak serius dengan Juve sebelum Euro 2012, namun kemudian Bayern muncul dan menjamin saya bahwa mereka menginginkan saya dalam tim mereka. Saya bermain di Bundesliga, Bayern adalah puncak cerita. Saya pergi ke Munchen, namun 3 tahun kemudian nasib membawa saya ke Turin.

Kami perhatikan bahwa rasa hormat besar kepada para senator Juventus, Buffon, Chiellini, Bonucci, Barzagli tidak hanya sebuah cerita basa basi ketika Anda menjadi rival?
Pastinya bahwa saya memiliki respek tinggi kepada para pemain dan individual senior sebelum saya datang. Saya telah mengenal Barzagli dari keseharian di Wolfsburg. Yang lainnya saya bertemu di duel tim nasional dan bentrokan klub. Saya bilang, Buffon adalah idola saya dari kanak-kanak, dengan Chiellini saya memiliki sebuah pertarungan keras, tapi kami selalu bersalaman di akhir laga. Itu adalah pertarungan pria sejati, tak ada tepukan tidak juga tangisan, saya sangat sangat menghargai mereka. Saya sebenarnya mengetahui separuh dari Juventus sangat baik sebelum saya datang, dan itu jelas makin menguatkan keyakinan saya ketika saya diajak menerima tawaran mereka.

Pelatih Allegri menyambut Anda dengan tangan terbuka walau suporter ragu setelah kepergian Tévez, Pirlo, Vidal. Perannya penting dalam suatu masa di mana hasil pertandingan berada dalam krisis dan ada banyak keluhan pada permainan Anda?
Pelatih memberikan saya banyak dukungan, mengekspresikan keyakinan pada potensi saya. Saya tahu bahwa dia memaksa kedatangan saya, yang mana merupakan sebuah faktor yang sangat penting dalam keputusan bagi setiap pemain. Dengan keyakinan tersebut dia berdiri di belakang saya dalam masa sulit, dan itu benar-benar berarti banyak bagi saya.

Sekarang semua terlihat hebat, namun di September dan Oktober ada rumor-rumor tentang perubahan, investasi buruk, Anda berada di antaranya, kemarahan fans?
Apa yang segera saya lihat setelah kedatangan saya di Turin, adalah kebesaran klub. Juventus adalah sebuah institusi di manapun mereka tampil, ada sekumpulan fans dan pengagum, media luar biasa  terlibat dalam klub.
Adalah wajar bahwa sebuah krisis hasil, setelah 4 tahun dominasi, menyebabkan banyak tensi dan diskusi. Apa yang mempesona saya, adalah respon klub. Para pemimpin klub datang ke kamp latihan dan dengan kehadiran mereka, mereka dengan segera memberikan keseriusan dari situasinya. Bagaimanapun, hal itu bijaksana, tanpa kepanikan dan kehebohan, hanya sebuah ajakan kepada mobilisasi penuh dan perlunya kembali ke level di mana Juventus pantas berada.

Artikel ini merupakan terjemahan dari artikel pada juvefc.com

No comments: